Page 183 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 183

KEPING 16


             Yang dibantu tidak tahu harus bilang apa, menggerutu
           atau berterima kasih.

             “Kamu tega banget, sih, ngomong gitu. Kan, kasihan.”
           Teman di sebelahnya menegur.
             Diva  menoleh.  “Terus,  kenapa  bukan  kamu  yang  paling
           cepat nolong?”
             Muka perempuan itu kontan tidak keruan. “Kapan, sih,

           omongan kamu enak didengar?” semprotnya sebal. “Me mang
           enak, pakai sepatu hak dua belas senti terus jatuh?”
             Diva menatapnya terheran-heran. “Bukannya kamu yang
           tadi paling pertama ketawa? Paling keras lagi.”
             “Kamu, tuh, punya masalah apa sebenarnya?” Perem puan
           itu makin sewot, seketika berdiri dan pergi.
             “Masalah Diva cuma satu. Nggak punya belas ka sihan,”
           celetuk Risty, diikuti cekikikan yang lain.

             Diva memang tak merasa kasihan sedikit pun. Ada ba tas
           ketinggian maksimum untuk hak sepatu. Yang menu rutnya
           patut dikasihani adalah orang-orang yang berupaya untuk
           mencuat dengan berjinjit di atas kemunafikan. Yang haus
           akan elu-elu tak bermakna. Yang meletakkan harga dirinya

           di  sewujud  tubuh  molek,  atau  di  seraut  wajah  can tik  tapi
           mati. Yang menggantungkan jati dirinya di gedung per kan-
           toran mewah bertingkat empat puluh, di besar kecil kucuran
           kredit bank, atau pada sebuah titel yang me mungkinkan
           mereka membodoh-bodohi sekian banyak orang bodoh lain.
           Lalu, mereka semua tak henti-hentinya merasa lebih. Bagai-



           172
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188