Page 184 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 184

Ia MenangIs

           mana juga nasib monyet-monyet kor porasi yang tengah me-
           rambati pohon karier dengan otak mereka yang semakin

           gersang? Apa rasanya tersandung dari ketinggian seperti itu?
           Ia yakin tak akan sanggup ter tawa.
              Diva mengurut keningnya. Penat.
              Seharusnya pertanyaannya adalah mengapa begitu ba nyak
           kebobrokan yang mesti ia lihat? Mengapa cuma ia sendirian?

           Mengapa hanya dirinya yang ingin hidup?
              Ia lelah. Ia rindu kebun kecilnya.
              “Div, ayo,  honey. Kita ulangi dari lagu yang pertama.
           Hap, hap!” Suara Adi yang cempreng menggugahnya.
              “Adi, saya nggak enak badan. Saya izin pulang, ya? Kita
           ketemu langsung besok malam?”
              Adi sedikit terkejut. Anak ini pasti sakit beneran, pikir nya.
           Tak pernah sekali pun Diva melewatkan latihan, wa laupun

           itu bukan masalah  untuk peragawati sekalibernya. Adi
           merasa tak punya pilihan selain membiarkannya pergi.






           Diva memang merasa sakit sungguhan. Kepenatan tersebut
           sakit yang baginya lebih nyata daripada kena flu atau cacar
           air. Kadang-kadang ia memang tak kuat menahan. Inilah
           saat ia ingin memaki semua orang sekaligus memeluk semua

           orang. Menyatakan kesedihannya sekaligus cintanya yang
           mendalam.



                                                                 173
   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189