Page 185 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 185
KEPING 16
“Pak Ahmad, kita langsung ke rumah, ya.”
“Ya, Non.”
Pak Ahmad melirik majikannya dari spion. Wajah can tik
itu terlihat agak muram. Kemuraman yang ganjil.
Sudah lebih dari empat tahun lamanya ia bekerja pada
Diva. Ia tidak melihat banyak hal. Majikannya hampir tidak
pernah membawa siapa pun ke dalam mobil ini. Apalagi ke
rumah. Setiap kali di jalan, selain berbicara di ponselnya, ia
hanya memandang ke luar jendela. Diam, kadang menggigiti
bibir.
Diva bukan jenis orang ekstra hangat yang tak pernah
lupa mengajaknya ngobrol atau melempar guyonan, tapi ia
tahu majikannya amat peduli. Diva tak pernah mem beri-
kannya baju Lebaran atau menyumbangkan hewan kurban,
tapi Diva menanggung biaya sekolah ketiga anak nya, bahkan
membayari mereka ikut berbagai macam kur sus. Belum lagi
suplai buku yang selalu datang membanjir. Istri Pak Ahmad
dikursuskannya menjahit dan disuruh membuka taman baca-
an untuk konsumsi lingkungannya. Tentu saja, semua modal
ditanggung Diva.
Nona Besarnya itu pernah berkata, “Kalau saya cuma
menggaji Bapak tok, sama saja kayak Bapak pelihara kam-
bing. Biar dikasih makan rumput segentong, kambing tetap
nggak bisa nolongin istri Bapak masak, atau bantu anak-
anak Bapak bikin pe-er. Kalau besok lusa saya jatuh miskin
dan nggak bisa gaji Bapak lagi, nanti Bapak ter paksa
174

