Page 186 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 186
Ia MenangIs
menganggur, cari-cari orang lain lagi yang bisa meng gaji.
Saya ingin Bapak bisa maju sekalipun nggak ada saya. Atau
majikan mana pun. Makanya, saya nggak mau Bapak pu sing
soal bayar ini-itu. Bagaimana anak Bapak bisa jadi juara
kelas kalau perutnya keroncongan? Buku nggak punya, alat
tulis nggak ada. Jangan lupa rumah Bapak harus dijaga tetap
bersih, jangan lupa pelihara ba nyak tanaman di pot, air
minum direbus benar-benar, ya, Pak.”
Diva memang majikan yang aneh. Ia begitu peduli akan
hal-hal yang menurutnya remeh. Sangat peduli. Be kerja
untuk nya bagi Pak Ahmad adalah berkah besar.
Diam-diam, ia memberanikan diri melirik spion lagi. Ter-
nyata, majikannya menangis. Tangisan bisu. Hanya saja, air
mata itu terlihat jelas membanjir. Turun tanpa henti dari
kedua matanya. Tak ada isak. Hanya air mata, turun, dan
turun terus.
Dada Pak Ahmad ikut sesak, tapi tak tahu harus ber buat
apa selain terus menyetir.
Di kamarnya, memakai kaus oblong putih dan celana pen-
dek, Diva duduk menghadap jendela. Tak ada lagi yang
dapat ia lakukan selain memeluk bantal kecil, dan terus me-
na ngis. Ia ingin membiarkan semuanya lepas. Kepe natan itu.
Tubuhnya masih cukup peka untuk memberi kan sinyal bah-
175

