Page 188 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 188

Ia MenangIs

           ngok melihat dedaunan di pohon. Mereka nyaris tak bergo-
           yang. Namun, angin ajaib tadi telah meniupkan arah mata-

           nya untuk tertumbuk pada sebuah jendela. Tepat di seberang
           rumahnya.
              Ada  seseorang  di  sana.  Seorang  perempuan,  duduk  me-
           nekuk, memeluk lutut, setengah menunduk. Cantik. De ngan
           bingkai malam yang penuh bintang, ia malah ke lihatan tidak

           nyata. Seperti lukisan. Re mendapatinya sa ngat indah. Selu-
           ruh lukisan ini. Teramat lekat, ia meman danginya.
              Menit demi menit pun berlalu. Tanpa terasa, sudah sa-
           ngat lama ini berlangsung. Namun, Re tetap tak bergerak,
           begitu pula lukisan itu.
              Sampai akhirnya, sang Objek Lukisan sekonyong-ko-
           nyong mendongakkan kepala. Mungkin ingin menatap la-
           ngit. Sinar lampu jalan pun mendapati wajah cantik itu tepat

           di  bawah  sorotnya.  Memberikan  kejelasan  pada  air  mata
           yang mengalir rapi. Lukisan ini menjadi semakin sempurna
           saja. Dengan saksama, Re mulai memperhatikan mata gadis
           itu, pandangannya mengarah ke sesuatu.
              Perlahan, matanya ikut tergiring melihat langit. Lu kis-

           annya berganti menjadi hamparan bintang. Tiba-tiba, Re
           berseru kaget. Nyaris tak percaya akan apa yang ia li hat.
              Dari ribuan kali ia memandangi langit, dan dari ribuan
           kali ia mendengar namanya, baru malam inilah ia bertemu
           langsung dengannya.  Bintang jatuh. Melesat begitu cepat,





                                                                 177
   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193