Page 191 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 191

KEPING 17


             “Kalian ada masalah? Bukan soal baby, kan?”
             “Bukan. Tapi, mungkin ada kaitannya juga, tapi, nggak

           juga, sih.” Rana bingung sendiri. Ini benar-benar sulit ba-
           ginya.
             “Kalian bertengkar? Arwin macam-macam sama kamu?”
           Ibunya mulai penuh selidik.
             “Aku cuma mau tanya,” Rana semakin hati-hati, “se lama

           Ibu menikah dengan Bapak, pernahkah sekali saja Ibu me-
           ra sa jenuh, atau seperti ada yang salah, seperti ada yang
           kurang?”
             “Oh, itu, toh,” potong ibunya. Otot mukanya langsung
           mengendur. “Kejenuhan itu hal wajar sekali dalam per nikah-
           an. Semua orang juga pasti mengalami. Yang pen ting, bagai-
           mana kalian pintar-pintar menyegarkan suasana. Itu saja.”
             Rana tidak yakin ibunya mengerti. “Bukan kejenuhan

           yang begitu. Tapi, lebih ke... sepertinya ada yang salah, ada
           yang kurang, seperti ada yang semestinya tidak ter adi,”
                                                               j
           ujarnya lagi, penuh penekanan.
             “Maksudmu, kamu menyesal menikah dengan Arwin?
           Begitu?”

             “Tidakkah Ibu pernah satu kali saja, merasa menyesal
           telah memutuskan menikah dengan Bapak?”
             “Apanya yang kurang dengan Arwin? Baik, tanggung
           jawab, saleh, pekerjaannya bagus, dari keluarga baik-baik—”
             “Bukan itu pertanyaanku, Bu.”





           180
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196