Page 192 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 192
Dua IDIot abaD ke-21
Kali ini perempuan itu terdiam. Lama sampai ia bisa
mencerna pertanyaan Rana dan menyusun kesimpulan dalam
nada bijak. “Setiap pernikahan punya pasang surut, sama
seperti hal-hal lain. Tapi, khusus yang satu ini, kamu nggak
bisa begitu saja lepas tangan dan menyisihkan apa-apa yang
menjadi ketidaknyamananmu. Sebagai seorang istri, kamu
harus sadar suamimu bukan orang sempurna. Kalian harus
saling memaklumi dan mau memaafkan satu sama lain seti-
ap hari. Kuncinya satu, komunikasi. Jangan lupa, segala se-
su atunya diselesaikan dengan kepala dingin.”
Rana merasa mereka berbicara di dua level yang ber beda.
Bukan itu yang ia cari dari percakapan ini. Apa yang ibunya
omongkan sudah kenyang ia baca dari tip-tip majalah, di
rubrik-rubrik konsultasi. Panduan standar yang sudah seperti
boks P3K-nya pernikahan yang wajib hadir di lemari obat
setiap rumah tangga. Bukan itu. Ini bukan problem porsinya
P3K. Rana sudah ingin masuk ICU rasanya.
“Apakah Ibu bahagia? Sekarang? Dulu?” tanyanya lagi.
“Ya, tentu saja, Nak. Pertanyaan apa itu? Ibu bahagia
melihat kamu, kakak-kakakmu, sudah berhasil jadi orang.
Semua sudah menikah. Apa lagi yang Ibu cari?” tandasnya
yakin.
Ia belum puas. “Bukan itu, tapi di luar itu semua. Di luar
keberhasilan anak-anak Ibu. Apakah Ibu—secara pri badi,
personal, individu—benar-benar bahagia di dalam perni kah-
an?” Rana mengeja, tajam.
181

