Page 193 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 193
KEPING 17
Perempuan itu lamat-lamat tersenyum. “Sekarang, Ibu
mengerti maksudmu,” katanya lembut. “Nanti, setelah kau
menjalani pernikahanmu sepuluh atau lima belas tahun, kau
akan mengerti sendiri. Kebahagiaan yang kau maksud seka-
rang tidak akan kau pertanyakan lagi nanti. Mengerti? Akan
ada satu masa ketika kebahagiaanmu pribadi tidak lagi
berarti banyak.”
Itu dia! Rana berseru dalam hati. Ke arah sanalah diri nya
dibawa bermutasi. Dan, selama ini ia melihat mutan-mutan
yang kebanyakan sudah tidak bisa lagi mewakili dirinya
sendiri. Perempuan di hadapannya bukan lagi Raden Ajeng
Widya Purwaningrum Sastrodinoto. Entah siapa dia. Yang
ia tahu, perempuan itu adalah seorang istri. Seorang nyonya
anu. Seorang ibu dari anak yang bernama A, B, C.
Kebahagiaan yang ingin kucapai ini akan bermutasi men jadi
kebahagiaan lain. Akan ada saatnya diriku lebur dalam identitas
baru. Orang-orang dan bahkan diriku sendiri akan lupa pada
Rana yang hari ini. Rana mana yang sebenarnya kuinginkan
terus hidup? Masih belum terlambatkah?
Rana menatap wajah ibunya, yang sontak menghadir kan
berantai wajah lain. Jantungnya terasa menciut. Me nyadari
bahwa dirinya pun sudah mulai bermutasi. Rantai itu telah
menyatu tanpa tahu lagi cara melepaskannya. Mampukah ia,
atau haruskah ia lepaskan, benarkah itu, salahkah itu? Dada-
nya sesak lagi.
182

