Page 24 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 24
Yang ada HanYalaH ada
“Dan, semoga, kalau saat itu datang, kita bisa meng-
alami nya bersama-sama lagi.”
Mendengar itu, kepala Reuben otomatis menoleh. Men-
da patkan Dimas yang sedang tersenyum tulus me natapnya.
Sepuluh tahun berlalu, dan senyum itu tetap sama. Se-
nyum yang mengantarkannya naik ke podium dan ber pidato
saat diwisuda dengan predikat cum laude. Senyum yang me-
nyuruhnya tidur saat ia keseringan begadang ka rena menyu-
sun makalah seminar. Senyum yang tabah mengiringi suka
dukanya selama jadi dosen.
Dan, Reuben pun masih tetap pahlawan Dimas yang du-
lu. Si Indo-Yahudi bersemangat tinggi yang selalu sibuk
menggabung-gabungkan ilmu psikologi dengan teori-teori
kosmologi yang cuma bisa ia mengerti sendiri. Reuben yang
selalu menyebut dirinya sang Psikolog Kuantum. Kobaran
semangatnya mampu menyalakan tungku banyak orang. De-
ngan ide-idenya yang segar, Reuben menjadi inspirator seka-
ligus kritikus paling sempurna buat Dimas. Tak ada tulisan
ataupun naskahnya yang tidak lebih dulu terplonco diskusi
panjang dengan Reuben.
Malam di Watergate Condominium adalah badai sero-
tonin mereka terakhir. Tiga bulan dan dua puluh satu hari
berikutnya, mereka dilanda badai baru. Badai en dor fin.
Hormon cinta.
Uniknya, sekalipun sudah sekian lama mereka resmi men-
jadi pasangan, Reuben dan Dimas tidak pernah ting gal
13

