Page 22 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 22

Yang ada HanYalaH ada


           atau Business Administration. Setiap summer atau winter bisa
           pulang ke Indonesia. Dan, punya stok Indomie berdus-dus.”

              “English Literature,”  potong Dimas, “dan, nggak per nah
           pulang waktu summer karena saya pasti ikut summer class atau
           ambil course. Jangan asal pukul rata, dong.”
              “Oh, sorry.”
              “Eh, Reuben, katamu tadi, serotonin adalah detergen

           otak?”
              “Itu baru hipotesis atau cuma metafora. Kenapa?”
              “Bisa jadi kamu benar. Kepalaku juga rasanya jernih. Saya
           jadi ingin jujur tentang sesuatu. Tentang diriku,” ter dengar
           suara menelan ludah, “saya sebenarnya—”
              “Gay?”
              Dimas melongo. “Lho, gimana kamu bisa...?”
              Reuben tertawa keras. “It was so obvious. Dari teman-

           teman  hang-out  kamu, apartemen kamu yang katanya di
           Dupont Circle, dan kamu harus fly dulu untuk mengaku?”
              Dimas ikut terbahak. Merasa konyol.
              “Tenang saja. Memangnya saya bukan?” Reuben ber kata
           enteng.

              Untuk kali kedua Dimas melongo. “Nggak mung kin. Ka-
           mu kelihatannya sangat—”
              “Sangat  laki?  Siapa  bilang  jadi  gay  harus  klemak-klemek
           atau ngomong pakai bahasa bencong? Gini-gini, saya su dah
           “coming out” dari setahun yang lalu. Orangtuaku juga sudah
           tahu. Malah mereka sudah kompak, katanya kalau sampai



                                                                  11
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27