Page 108 - Supernova 4, Partikel
P. 108

api akan berbaris di jalur yang ditetapkannya dan berkomitmen untuk menerjang apa saja.
        Termasuk tubuh yang terbaring santai di atas buaian tanpa bisa meramalkan bahwa tali
        yang mengikat buaian ke tiang telah dipilih menjadi jalur semut api sore itu, dan sebentar
        kemudian manusia malang itu akan dilejitkan ke udara oleh gigitan semut yang bertubi,
        lalu mendarat lagi untuk berjingkrak-jingkrak kesetanan.

          Lintah,  dengan  cepat  menduduki  posisi  puncak  daftar  musuhku.  Bentuk  normalnya

        menyaru dengan tanah dan lumpur. Hanya jika mata kita ekstra-awas, dapat kita tangkap
        garis  kekuningan  di  punggungnya.  Sekilas  ia  hanya  akan  terlihat  seperti  cacing  tak
        berdaya.  Dengan  bentuknya  yang  innocent  itu,  lintah  mengintai  mangsa  dengan
        mengandalkan sensor panas. Begitu pengisapnya menempel dan tiga giginya menancap,
        sifat  aslinya  keluar.  Ia  berubah  menjadi  vampir  ganas.  Memompakan  hirudin,  zat

        antikoagulan  yang  menghambat  pembekuan  darah,  lintah  tidak  akan  berhenti  sampai
        kenyang.  Beberapa  kali  aku  tergigit  lintah  dan  tidak  sadar  hingga  hangat  darah  terasa
        mengaliri kulit. Darah dari luka gigitan lintah bisa mengalir terus hingga sejam lamanya.
        Meninggalkan bekas luka yang sukar kering.

          Meski  dibekali  berbagai  tip  untuk  melepaskan  lintah,  dari  mulai  menabur  garam,
        menggosok  tembakau,  sampai  mengoles  minyak  kayu  putih,  aku  tetap  memendam
        sentimen terhadap makhluk satu itu.

          Sambil menekan luka bekas isapan lintah di kakiku dengan perban, aku mendengarkan
        salah  seorang  staf  bernama  Yadi  bercerita.  Katanya,  lintah  hutan  Kalimantan  punya

        peminat  tersendiri.  Lintah-lintah  itu  ditangkapi  lalu  dijadikan  minyak.  Minyak  lintah
        Kalimantan punya reputasi terkenal sebagai pembesar penis. Mendengar itu, aku terbahak-
        bahak sampai mencucurkan air mata. Yadi pun kebingungan. Mencari-cari apa yang lucu.
        Bagiku,  bagaimana  manusia  mendapat  ide  kejantanan  dari  kemampuan  alamiah  lintah
        membengkakkan diri sangatlah kocak. Yang satu untuk bertahan hidup, sementara yang

        lain untuk harga diri.
          Tak  ada  penangkar  lintah  di  antara  kami.  Aku  pun  meminjam  parang  dari  Yadi.

        Kuputuskan  untuk  mengakhiri  hidup  makhluk  buncit  yang  tengah  menggeliat
        kekenyangan  oleh  darahku.  Dengan  parang,  kubelah  lintah  itu  menjadi  dua.  Sesaat
        kemudian, kusambar kembali parang itu. Membelah sekali lagi. Darah terpencar.

                                                                                                               7.

        Saat  itu  akhirnya  tiba.  Saat  rol  filmku  habis.  Saat  aku  sudah  perlu  membeli  keperluan
        pribadiku.  Saat  aku  harus  melakukan  kontak  dengan  kehidupan  yang  kutinggalkan  di

        Pulau Jawa.
          Hari itu aku memutuskan ikut keluar dengan staf yang rutin pergi ke Pangkalan Bun

        untuk  keperluan  logistik.  Hampir  sebulan  aku  tidak  keluar-keluar  kamp.  Bukan  karena
        tidak  ingin,  melainkan  lebih  karena  tak  mungkin  meninggalkan  Sarah,  dan  belum
        memungkinkan untuk mengajaknya pergi dari lingkungan kamp.

          Sekarang, aku merasa ikatan kami sudah cukup solid untuk memberinya rasa aman jika
        keluar  dari  zona  nyaman.  Hanya  cengkeramannya  saja  yang  terasa  menguat  saat  kami
        menaiki perahu.
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113