Page 109 - Supernova 4, Partikel
P. 109

“Sebentar, ya, kita tunggu Ibu dulu,” kata Pak Sulis, pengemudi perahu.

          Bertepatan dengan informasi dari Pak Sulis, muncullah Ibu Inga di kejauhan.

          Aku menelan ludah. Ibu Inga ikut?

          Dengan langkah mantap, Ibu Inga melompat dari jembatan ke dek kapal. Ia tampak lebih
        rapi  pagi  ini.  Memakai  celana  kain  dan  kemeja,  rambutnya  yang  setengah  beruban
        dikepang apik.

          “Saya ada janji rapat di kantor Bupati,” terangnya kepada Pak Sulis. Kepadaku, Ibu Inga

        hanya  tersenyum  tipis.  Tak  lupa,  tangannya  mampir  membelai  Sarah  yang  memeluk
        pinggangku  semakin  kencang  gara-gara  mendengar  mesin  perahu  motor  kami  telah
        dinyalakan.

          Perahu kami pun melaju. Membelah air hitam Sekonyer.




        Hanya ada empat orang di perahu. Tahu diri, aku menyingkir ke ujung dek dan bertahan

        duduk di sana. Sarah mengisapi jempolku sambil melamun menatap air sungai.
          “Sarah  sudah  lebih  tenang  sekarang,  ya,”  suara  Ibu  Inga  tiba-tiba  terdengar  dari  arah

        belakang.

          Cepat,  kuputar  punggung.  Gelagapan.  Tidak  siap  melihatnya  tahu-tahu  duduk  di
        sebelahku.

          “Saya dengar dari Yadi kamu sempat jadi guru bahasa Inggris untuk anak-anak. Betul?”

          “Betul, Bu.” Aku merasa pipiku memerah. Ada kebanggaan mendengar Ibu Inga tahu
        sesuatu tentang diriku.

          “You’re doing a very good job with Sarah,” katanya.

          Ingin kuceburkan diriku ke air Sekonyer yang dingin saat itu juga. Pipiku tambah panas.
        Akhirnya, aku cuma bisa tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


          “Kalau kursus, waktu buat murid-muridmu mungkin cuma satu-dua jam. Kalau di sini,
        kamu harus memberikan seluruh waktumu. Sampai kapan kamu bisa bertahan?” Tiba-tiba
        pertanyaan Ibu Inga menghantamku.

          Sebelum aku sempat menyusun jawaban, Ibu Inga sudah berkata lagi, “Banyak relawan
        datang  ke  Tanjung  Puting.  Mereka  jadi  teman  dan  saudara  buat  orangutan.  Tapi,  tidak
        banyak yang memilih dan dipilih jadi orangtua. Kamu siap?”

          Dari dua tanya itu aku mulai bisa menduga keraguannya kepadaku selama ini, alasannya
        menjaga jarak.


          “Kenapa kamu di sini, Zarah?”
          Dadaku seperti dihunjam. Pertanyaan final itu harus kujawab.


          “Saya  mencari  rumah,  Bu,”  jawabanku  meluncur  begitu  saja.  “Mungkin  bisa  saya
        temukan di sini.”
   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114