Page 110 - Supernova 4, Partikel
P. 110

Ibu  Inga  lurus  menatapku,  mencari  sesuatu  yang  perlu  ia  konfirmasi.  “Saya  percaya,
        rumah itu ditemukan di dalam,” katanya lembut sambil menempelkan tangannya di dada.
        “Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita.”

          Entah  mengapa,  kali  ini  yang  panas  adalah  mataku.  Aku  langsung  mengedip-ngedip
        cepat, berharap Ibu Inga tidak sempat melihatnya.

          “Kalau  kapan-kapan  saya  jalan  ke  hutan  untuk  observasi,  kamu  bisa  ikut,”  katanya

        dengan senyum.

          “Mau, Bu,” aku mengangguk-angguk semangat. “Terima kasih.”

          Jarak kami meluntur. Dalam tanya-jawab singkat yang terjadi antara kami tadi, cukup
        banyak  yang  terungkap.  Sebagaimana  Ibu  Inga  sekian  lama  tekun  mengobservasi
        orangutan di kanopi hutan, ia pun mengobservasiku tanpa kecuali.

                                                                                                               8.

        Selagi  Ibu  Inga  rapat  di  kantor  Bupati,  aku  ikut  Pak  Sulis  berkeliling  Pangkalan Bun.
        Kami  berbelanja  sembako,  ke  kantor  pos  mengambil  paket-paket  kiriman  yang  isinya
        aneka sumbangan untuk kamp. Ada yang mengirim buku anak, alat tulis, obat-obatan, dan

        macam-macam. Sebagian barang ini akan dibagikan lagi ke masyarakat di area konservasi.

          Aku pun menyempatkan diri berbelanja untuk diriku sendiri. Membeli beberapa baju,
        kaus kaki, sandal karet, peralatan mandi, pembalut, dan rol film. Hati-hati kukeluarkan
        gulungan  uang  dari  kantong  serut  yang  kusimpan  baik-baik  di  tas.  Mengeluarkan
        secukupnya. Aku tak pernah punya tabungan di bank. Semua pendapatanku selama jadi
        guru kusimpan, kusembunyikan, dan kubawa ke mana-mana.

          Waktu berlalu dengan cepat. Kami sudah harus menjemput Ibu Inga di kantor Bupati.

        Sementara  itu,  aku  belum  sempat  mampir  ke  wartel.  Terpaksa  aku  meminta  izin
        kepadanya untuk menyimpang sejenak sebelum kami bertolak kembali ke kamp.

          Ditemani Ibu Inga ke wartel adalah keputusan yang tepat. Pemilik wartel yang kudatangi
        sepertinya trauma dengan orangutan. Ia menolak Sarah masuk, dengan alasan tempatnya
        kecil. Padahal, Sarah tak lebih besar daripada tasku.

          “Kamu masuk saja. Biar saya jaga Sarah,” kata Ibu Inga.

          Aku memandangnya ragu.

          Dengan ketenangan pawangnya, Ibu Inga mengulurkan tangan, langsung menatap mata
        Sarah. “Sini, Sarah,” panggilnya lembut.


          Sarah melihatku, seolah mencari persetujuan. Kucondongkan tubuhku ke arah Ibu Inga,
        kulepaskan genggamannya. Tak sampai sedetik, ia melompat.

          Aku tak menyangka Sarah akan begitu kooperatif. Sampai aku masuk ke dalam wartel,
        tak kudengar Sarah memekik sedikit pun. Akhirnya, aku bisa mengembuskan napas lega.
        Sejenak.

          Ada  dua  pihak  yang  harus  kuhubungi  hari  ini.  Rumah  dan  tempat  kursus.  Kulihat
        deretan nomor-nomor dalam catatanku. Kegentaran mulai merambat naik.
   105   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115