Page 111 - Supernova 4, Partikel
P. 111

Aku memilih yang lebih mudah. Tempat kursus. Lima belas menit aku berbicara dengan
        Pak Ishak, direktur cabang tempatku mengajar. Sesuai dengan dugaanku, ia awalnya kaget
        karena  menduga  aku  tertimpa  kemalangan  di  tengah  hutan  hingga  tak  pulang-pulang.
        Tengah-tengah  pembicaraan,  ia  mulai  memarahiku  karena  bersikap  tidak  profesional.
        Menjelang  akhir,  ia  sempat  membujukku  untuk  pulang  dan  kembali  mengajar.  Setelah

        kutegaskan  lagi  keputusanku  menjadi  relawan  di  Tanjung  Puting,  akhirnya  Pak  Ishak
        pasrah.

          Telepon  itu  diakhiri  dengan  Pak  Ishak  menggerutu,  “Saya  kapok  merekrut  pengajar
        remaja. Labil. Banyak maunya. Nggak bisa dipegang.”

          Aku ingin bilang, aku cukup setuju dengan pendapatnya. Tapi, aku khawatir dia malah
        tambah naik pitam. Jadi, aku diam.

          Nomor telepon kedua. Kulirik jam. Perhitunganku, Hara dan Ibu sedang ada di rumah.
        Sepintas aku berharap semoga cuma ada Hara.

          “Assalamualaikum,” suara Hara terdengar di ujung sana.


          “Waalaikumsalam, Hara.”

          “Kakak?”  Hara  setengah  memekik.  “Kak  Zarah  di  mana?  Kakak  baik-baik  saja?”
        rentetnya panik.

          “Baik, Hara. Kak Zarah tertahan di Tanjung Puting karena merawat bayi orangutan. Jadi,
        nggak bisa telepon. Maaf, ya. Baru bisa telepon hari ini.”

          “Orang dari majalah sempat kasih tahu ke rumah, katanya Kak Zarah nggak mau pulang.
        Mereka kirim surat pernyataan. Ada tanda tangan Kak Zarah. Kenapa Kak Zarah nggak
        mau pulang?”

          “Kakak mau tinggal di Tanjung Puting untuk sementara.”


          “Berapa lama?”
          “Belum tahu.”


          Hara terdiam. Dari jawaban sepotongku, sepertinya ia sudah bisa menarik kesimpulan.
        Pelarian kakaknya berlanjut.

          “Betul, kan?” katanya. Nada itu getir.

          “Betul apa?”

          “Mimpi Hara. Kakak bakal pergi jauh. Meninggalkan Hara dan Ibu.”

          Ludahku ikut memahit. “Cuma sementara, Hara,” kataku setengah bergumam. Pertanda
        ketidakyakinan.

          Tiba-tiba terdengar suara Ibu bertanya keras kepada Hara, “Kamu bicara sama siapa?”

          “Kak Zarah….”

          Gagang telepon disambar. “Zarah? Ini benar Zarah?” tanya Ibu. Lebih keras.

          “Iya, Bu.”
   106   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116