Page 112 - Supernova 4, Partikel
P. 112

“Pulang kamu!”

          “Zarah mau tinggal di sini dulu, Bu.”

          “Buat apa kamu di situ? Pulang!”

          “Zarah mau jadi relawan di kamp. Mau bantu mengurus orangutan.”

          “PULANG!” Ibu membentak.

          Bibirku mengerucut. Rahangku mengeras. “Nggak, Bu. Zarah mau di sini.”

          “Kamu  lebih  mementingkan  monyet  daripada  keluargamu  sendiri?  Keterlaluan  kamu,
        Zarah!  Tega  kamu  meninggalkan  Hara?  Memangnya  kamu  pikir  gara-gara  kamu  sudah

        bisa  kerja,  cari  uang  sendiri,  kamu  bisa  seenaknya  pergi  ke  mana  pun  tanpa  izin
        keluargamu? Egois! Nggak tahu diri!”

          “Bu,  setahun  terakhir  ini  Zarah  juga  nggak  tinggal  sama  Ibu  dan  Hara.  Apa  bedanya
        kalau sekarang Zarah memilih di sini?”

          Giliran Ibu yang terdiam.

          Hening cukup lama sampai terdengar bunyi “klik”. Telepon ditutup Ibu.

          Aku mematung, mencerna dua sambungan telepon yang baru saja terjadi. Kuputuskan
        kedua tali pengikatku dalam sekali kunjungan ke wartel. Aku sadar aku tidak lantas bebas.
        Tali baru sudah menungguku di luar. Sarah. Bukan demi kebebasan aku melakukan apa
        yang baru saja kulakukan. Sejujurnya, aku pun tak tahu lagi untuk apa.


          Yang  kutahu,  kemarahan  Ibu  bukan  karena  aku  memilih  orangutan  ketimbang
        keluargaku  sendiri.  Kemarahan  Ibu  hari  ini  adalah  kemarahannya  yang  tertunda,  yang
        terakumulasi sejak perang dingin kami dimulai dan aku memilih tinggal di saung Batu
        Luhur setahun lalu. Kemarahan Ibu adalah karena anaknya melihat segala tempat di dunia
        ini, entah itu saung tak berdinding di tengah ladang, atau teras bangunan kayu di tengah
        hutan  belantara,  seolah  lebih  baik  daripada  rumahnya  sendiri.  Rumah  yang  telah  Ibu
        wujudkan dan pertahankan dengan air mata dan jerih payah.


          Aku keluar dari wartel. Terdengar Sarah menjerit senang. Sekali lompat, ia pindah dari
        tubuh Ibu Inga ke tubuhku. Kami kembali satu. Begitu Sarah mendarat, bagai selendang
        bulu membelit tubuhku, ada kehangatan menenangkan yang mengalir di darah. Duniaku
        kembali utuh.

          Sesaat kemudian, aku merasa sedih. Inilah momen pertama bisa kurasakan sepenuhnya
        perasaan seorang ibu. Perasaan Ibu.

                                                                                                               9.

        Ibu Inga menepati janjinya. Beberapa hari setelah kami pergi bersama ke Pangkalan Bun,

        ia mengajakku masuk hutan.

          Sulaiman, orangutan yang diadopsi Ibu Inga, sudah lebih besar dan mandiri. Ia sudah
        mau  ditinggal  di  kamp.  Sarah  menjerit-jerit  ketika  aku  mencoba  menitipkannya  di
        kandang. Terpaksa kami pergi bertiga. Ibu Inga, aku, Sarah. Aku hanya berdoa Sarah tidak
   107   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117