Page 113 - Supernova 4, Partikel
P. 113

panik jika kami masuk ke hutan dalam.

          Secara berkala, Ibu Inga mengobservasi langsung orangutan-orangutan di hutan untuk
        mengecek  kondisi  kesehatan  mereka,  perkembangan  sosial  mereka,  atau  sekadar
        memastikan mereka masih hidup.

          Berbeda dengan gorila yang terestrial, atau simpanse yang setengah arboreal, orangutan
        adalah  primata  arboreal  tulen.  Sebagian  besar  hidup  orangutan  terjadi  di  pohon.  Bagi

        makhluk terestrial seperti manusia, mengamati orangutan bukan pekerjaan mudah.

          Gorila  dan  simpanse  hidup  dalam  kelompok,  sedangkan  orangutan  hidup  soliter.
        Orangutan jantan dewasa menghabiskan hidupnya dalam kesendirian, kecuali jika musim
        kawin. Jika berkelompok pun, jumlahnya tidak lebih dari tiga atau empat. Seiring dengan
        perubahan umur dan dinamika antar-individu, kebersamaan itu biasanya sementara. Ibu
        akan melepas anak dewasanya. Jantan akan menyendiri.

          Meski penyendiri, tidak berarti orangutan tak mengenal kesetiaan. Justru karena sifatnya
        soliter,  orangutan  amat  jujur.  Dalam  tindakan  terkecilnya  sekalipun,  manusia  selalu

        dibayangi motivasi sosial, manusia butuh justifikasi dari lingkungannya. Orangutan tidak.
        Manusia  perlu  konfirmasi  berulang  dalam  hubungan  antarsesama,  entah  itu  pasangan,
        sahabat,  atau  keluarga.  Kita  gemar  menguji  cinta.  Orangutan  tidak.  Ikatan  orangutan
        terjadi sekali dan bertahan selamanya.

          Melihat Sarah yang memelukku tanpa lelah, sejujurnya aku ragu.

          “You  need  to  remind  yourself,  over  and  over  again,  they’re  not  humans,”  seakan
        membaca pikiranku, Ibu Inga berkata. “Kita pikir mereka yang akan susah melepaskan

        ketergantungannya  kepada  kita.  Dari  pengalaman  saya,  justru  sebaliknya.  Manusialah
        yang lebih sulit melepas. We’re built for drama, while they will always be orangutans,”
        lanjutnya.

          Kami  berjalan  terus,  kepala  senantiasa  mendongak  ke  atas,  telinga  bersiaga
        mengantisipasi bunyi-bunyian. Orangutan memiliki kelihaian sekelas hantu dalam perihal
        muncul dan hilang tanpa terdeteksi. Sebelum Ibu Inga menceburkan dirinya di Tanjung
        Puting, para ilmuwan saat itu percaya bahwa orangutan, primata paling misterius, tidak

        mungkin bisa dipelajari.

          Ibu  Inga  bercerita  tentang  perbedaan  kecepatan  riset  yang  ekstrem  antara  kolega-
        koleganya yang meneliti primata besar lain. Koleganya yang meneliti simpanse di Afrika
        berkomentar, apa yang ia ketahui tentang simpanse dalam waktu dua minggu sama dengan
        yang Ibu Inga bisa ketahui tentang orangutan dalam dua tahun.

          “Menurut Ibu, bisakah orangutan bertahan?” tanyaku.

          “Orangutan  cuma  bisa  bertahan  kalau  hutan  bertahan.  Kalau  manusia  tidak  bisa
        mempertahankan hutan, tidak cuma orangutan yang hilang….”

          “Manusia juga,” sambungku.


          Ibu Inga berhenti sejenak di depan sebuah pohon. “Pohon banitan, buahnya kesukaan
        orangutan,”  gumamnya,  kepalanya  mendongak,  tapi  belum  ada  tanda-tanda  kehadiran
   108   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118