Page 114 - Supernova 4, Partikel
P. 114

makhluk  oranye  itu.  “Kamu  tahu,  Zarah?  Menebang  satu  pohon  di  hutan  tropis  berarti
        membunuh puluhan, mungkin ratusan spesies sekaligus. Teman saya, ahli biologi, meneliti
        di  Amazon.  Dia  menemukan,  satu  pohon  di  sana  dihuni  163  spesies  kumbang.  Setiap
        pohon  bisa  menghasilkan  spesies  serangga  yang  berbeda-beda.  Hutan  tropis  adalah
        ekosistem paling kompleks di dunia. You cannot mess around with something like this.”

          Kami  berjalan  lebih  dalam,  matahari  sudah  tinggi  di  ubun-ubun.  Tiba-tiba,  terdengar

        gemeresik daun dari atas. Beberapa ranting berjatuhan. Kemudian, bergemalah bebunyian
        khas orangutan. Muka Sarah langsung berubah. Ia ikut mendongak dan mencari.

          Di  atas,  dua  orangutan,  ibu  dan  anak,  sedang  membuat  sarang.  Terbuat  dari  ranting-
        ranting  berdaun  yang  dibengkokkan  dan  dipatahkan  membentuk  lingkaran,  orangutan
        akan memakainya untuk makan dan beristirahat.

          Ibu-anak  itu  tampak  tidak  terganggu  dengan  kehadiran  kami.  Aku  menduga,  mereka
        mengenal  Ibu  Inga.  Dugaanku  benar.  Ibu  Inga  mengenali  induknya  sebagai  Tina,  dan

        anaknya, Tango. Tina adalah salah satu orangutan yang pernah direhabilitasi di kamp dan
        sudah lama kembali ke alam bebas. Salah satu indikator keberhasilan Tina adalah ia sudah
        berhasil  punya  keturunan,  anak  orangutan  berusia  setahun,  sedikit  lebih  besar  daripada
        Sarah, bernama Tango. Baru hari itulah aku tahu dari Ibu Inga tentang sistem penamaan
        orangutan yang ia lakukan. Jika ada induk dinamai dari huruf “T”, nama anaknya juga
        akan diawali huruf yang sama.

          Tina menjatuhkan sisa  makanannya  dari  atas  pohon.  Sarah  langsung  melompat  untuk

        menginspeksi serakan benda di tanah. Di lantai hutan, orangutan meninggalkan jejak yang
        khas: kombinasi ranting patah bekas sarang, dedaunan, kulit buah, dan batu yang mereka
        pakai untuk mengupas buah.

          Dari cara Sarah memeriksa buangan makanan dari Tina, aku mengamati ada pelajaran
        terkandung  di  sana.  Tina,  yang  sudah  kembali  ke  habitat  alamiahnya,  menunjukkan
        kepada Sarah bagaimana cara hidup orangutan yang sesungguhnya. Cara hidup yang kelak

        harus dijalani Sarah ketika ia berpulang ke naungan rimba.
          Selain Tina dan Tango, kami tak bertemu orangutan lain hari itu. Kami pun kembali ke

        kamp.

          Berjalan bersama-sama Ibu Inga hari itu menjadi kebanggaan bagiku. Dua puluh tahun
        yang  lalu,  perempuan  di  sampingku  itu  merambah  hutan  sendirian,  menembus  rawa,
        menghabiskan ribuan jam mengamati orangutan dan mencatat perjalanan kehidupan setiap
        individu.  Ikatanku  dengan  Sarah  hanya  sekelumit  dibandingkan  ikatan  yang  sudah  Ibu
        Inga bangun dengan ratusan orangutan yang pernah ia selamatkan.


          Perempuan itu telah merasakan pedihnya ditinggal mati, rindunya ditinggal pergi, dan
        bahagia  tak  terhingga  ketika  ia  berhasil  mengubah  satu  nasib  orangutan  menjadi  lebih
        baik.

          Aku sedang berjalan bersama seorang legenda.

                                                                                                             10.

        Memasuki bulan kelimaku di Tanjung Puting, aku masih bertahan. Kondisi tidak digaji
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119