Page 115 - Supernova 4, Partikel
P. 115

bukan masalah yang berarti. Pengeluaranku amat sedikit. Hanya untuk keperluan kecil-
        kecil yang kubeli sendiri sebulan sekali atau menitip teman yang ke Pangkalan Bun.

          Saat musim hujan datang  seperti  saat  ini,  dimensi  waktu  di  Tanjung  Puting  langsung
        memelar. Segalanya berjalan lamban. Turis sepi. Hujan yang bisa mengguyur sehari penuh
        memaksa  kami  lebih  banyak  mengurung  diri.  Pada  saat  seperti  inilah,  aku
        menenggelamkan diri membaca buku.


          Aku tidak kekurangan bacaan. Buku-buku di pusat edukasi dan koleksi pribadi Ibu Inga
        yang  berbaik  hati  meminjamkannya  kepadaku  menjadi  hiburan  sekaligus  menjawab
        kebutuhanku akan informasi. Akan belajar. Hidup di sini mengingatkanku lagi pada masa-
        masa bersekolah bebas dengan Ayah. Buku dan alam, berpadu menjadi guru.

          Kehausanku  belajar  juga  ditangkap  oleh  Ibu  Inga.  Sedikit  banyak,  itulah  faktor  yang
        mengubah sikapnya kepadaku. Jika dulu aku selalu merasa menjadi pilihan terakhir untuk
        diajaknya bicara, kini sebaliknya. Ibu Inga seakan membuat waktu-waktu khusus untuk

        mengajakku bicara. Berdua. Ia akan memanggilku saat makan malam, atau sesudahnya,
        dan kami akan mengobrol tentang apa saja.

          Kalau tidak sedang mengurus Sarah, aku terjun ke berbagai kegiatan di kamp. Minggu
        lalu, kami baru selesai membangun kamar mandi di salah satu pos. Sebulan lalu, kami
        gotong  royong  memperbaiki  jembatan.  Sadar  akan  statusku,  aku  terus  mengingatkan
        diriku untuk menjadi berguna di sini.

          Kamp ini tidak pernah kekurangan tantangan. Jika bukan tantangan alam atau pembalak
        liar, selalu ada orangutan berkarakter luar biasa yang menyedot fokus seisi kamp.


          Melly,  orangutan  baru  yang  sempat  jadi  koleksi  di  salah  satu  rumah  pejabat  di
        Palangkaraya,  dibawa  ke  kamp  sebulan  lalu.  Menurut  undang-undang,  orangutan  tidak
        boleh  menjadi  peliharaan  rumah.  Tapi,  sampai  hari  ini,  masih  saja  ada  orangutan
        dipelihara diam-diam oleh penduduk, terutama dari kalangan mampu dan pejabat.

          Melly dipelihara manusia sejak bayi. Sepertinya, di rumah itu Melly diperlakukan lebih
        seperti boneka ketimbang hewan peliharaan biasa. Didukung oleh kecerdasan dan sifatnya
        yang serba penasaran, Melly menghayati betul identifikasinya dengan manusia.

          Antara geli dan takjub, kami menyambut Melly yang waktu itu datang dengan pita ungu

        membelit kepalanya seperti bando. Sesuai dugaan, Melly tidak terlihat nyaman dikelilingi
        orangutan. Ia lebih senang bersama manusia.

          Sarah, yang sejak awal terlihat tertarik pada Melly, selalu berusaha mendekati dan selalu
        ditepis dengan sukses oleh Melly yang lebih besar dan kuat. Di mata Melly, Sarah dan
        anak-anak orangutan lain ibarat hama usil yang perlu diberantas. Akibatnya, Melly sangat
        haus akan atensi manusia.

          Melly tidak betah tinggal di luar. Ia selalu ingin di dalam, tidur di ranjang, ikut makan

        dari piring kami. Ketimbang buah, Melly lebih tertarik pada gula-gulaan. Entah itu gula
        pasir atau gula merah, Melly memburu gula seperti predator memburu mangsa. Stok gula
        di dapur terpaksa kami sembunyikan rapi-rapi karena selalu jadi incaran Melly.

          Kami tidak bisa lengah lagi mengamankan pintu dan jendela. Setiap ada kesempatan,
   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120