Page 116 - Supernova 4, Partikel
P. 116

Melly  akan  menerobos  seperti  rampok  siang  bolong.  Membongkar  dan  mengacak  isi
        rumah demi memuaskan rasa ingin tahunya.

          Dua hari lalu, seorang tukang masak, yang baru kerja di kamp seminggu, lari dari dapur.
        Menjerit-jerit  minta  tolong.  Di  lantai  dapur,  kami  temukan  Melly  sedang  mencampur
        tepung, potongan sayur, dan telur. Kalau saja ada wadah yang bisa ia pakai dekat situ, aku
        tak  heran  jika  menemukan  Melly  sedang  mengaduk  adonan  dalam  baskom,  siap

        menggoreng  bakwan.  Sebegitu  “manusia”-nya  Melly,  kami  pun  dibuat  tercengang,
        terhibur, sekaligus direpotkan setengah mati olehnya.

          Orangutan  seperti  Melly  membuatku  merenungi  lagi  garis  evolusi  yang  memisahkan
        manusia  dan  makhluk  lain  di  Bumi.  Manusia  berbagi  63%  kesamaan  DNA  dengan
        protozoa,  66%  kesamaan  DNA  dengan  jagung,  75%  dengan  cacing.  Dengan  kera-kera
        besar, perbedaan kita tak lebih dari tiga persen. Kita berbagi 97% DNA yang sama dengan
        orangutan. Namun, sisa tiga persen itu telah menjadikan manusia pemusnah spesiesnya.

        Manusia menjadi predator nomor satu di planet ini karena segelintir saja DNA berbeda.

          Ayah  pernah  bilang,  manusia  ibarat  anak  yang  lupa  keluarga  dan  sanak-saudara.  Ia
        menyangka dirinya yatim piatu di Bumi ini. Ia lupa telah bersepupu dengan orangutan,
        simpanse,  gorila.  Ia  lupa  bersaudara  jauh  dengan  pohon.  Satu-satunya  yang  perlu
        disembuhkan dari manusia adalah amnesianya. Manusia perlu kembali ingat ia diciptakan
        dengan bahan baku dasar yang sama dengan semua makhluk di atas Bumi.

          Berada di sini, dikelilingi orangutan, menjadi pengingat betapa dekatnya kita semua. Tak

        terhitung  lagi  kulihat  gerakan,  tingkah  polah,  dan  interaksi  mereka  yang  sangat  mirip
        manusia.

          Mungkin  karena  itulah  Ibu  Inga  berkali-kali  memperingatkan  kami,  para  pengurus
        orangutan,  untuk  memiliki  jarak  yang  sehat  dengan  orangutan yang kami urus. Setelah
        sekian  lama  kami  menjalin  hubungan  dengan  mereka,  tanpa  sadar  kami  menganggap
        mereka serupa manusia. Dan, sebagaimana manusia adalah makhluk yang selalu dikejar

        ekspektasi, tak ayal kami juga menciptakan aneka ekspektasi yang membebani hubungan
        kami dengan orangutan.

          Dalam  salah  satu  obrolan  kami,  Ibu  Inga  mengatakan,  hutan  ini  baginya  adalah
        simbolisasi dari Firdaus. Kompleksitas hutan tropis mencerminkan inteligensi Ilahi yang
        tak  tercerna  manusia.  Dan,  orangutan  adalah  pengingatnya  akan  kemurnian  manusia
        sebelum keluar dari Firdaus. Pada orangutan, kita dapat melihat sejatinya makhluk Firdaus
        yang tak pernah memutus hubungannya dengan kesatuan alam.

          Ucapan  Ibu  Inga  saat  itu  bergaung  di  pikiranku  dan  aku  pun  mulai  berandai-andai,
        mungkinkah kunci tiga persen pemisah kami terletak pada apa yang selama ini disebut

        “buah pengetahuan”? Mungkinkah benda, atau substansi apa pun, yang disebut “buah
        pengetahuan” itu mengaktifkan sebuah area tertentu dalam peta genetika manusia? Area
        yang dorman di primata lain?

          Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang, “MELLY!”

          Aku langsung meletakkan buku yang kubaca dan berlari ke sumber suara.
   111   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121