Page 117 - Supernova 4, Partikel
P. 117

Suara itu berasal dari rumah panggung yang dijadikan wisma bagi relawan. Beberapa
        staf  dan  dua  relawan  dari  Australia,  Laura  dan  Shelley,  sedang  berdiri  di  depan  pintu
        kamar tidur mereka yang terbuka. Tercengang.

          Aku mendekat untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.

          Melly,  di  atas  ranjang  yang  sudah  berantakan,  sedang  memegang  batang  lipstik  yang
        isinya sudah rompal. Mulut Melly penuh cemong merah. Pipinya bertabur jejak bedak.

        Tak  jauh  dari  tempatnya  berbaring,  satu  kemasan  bundar  bedak  tabur  telah  terguling,
        isinya berhamburan di seprai. Melly tertangkap basah berusaha dandan.

          Detik itu, aku merasa Melly nyaris setengah jalan keluar dari Firdausnya.

                                                                                                             11.

        Seiring  waktu,  Sarah  mulai  terbiasa  dengan  kehadiran  kameraku.  Dia  tidak  lagi
        menganggapnya  barang  istimewa  yang  perlu  direbut  jika  ada  kesempatan.  Aku  mulai
        punya lagi kesempatan memotret.

          “Kameramu sangat bagus,” komentar Ibu Inga ketika aku sedang mengelap bodi Nikon-
        ku.


          “Makasih, Bu,” aku nyengir. Setiap kali Ibu Inga melihat kamera ini nongol, ia pasti
        berkomentar sama.

          “Kamu yang pilih sendiri?” tanyanya.

          “Nggak, Bu. Saya dikasih.”

          “Baik sekali yang ngasih,” Ibu Inga tersenyum.

          Aku cuma diam dan mengangguk. Pasti aneh sekali kalau kubilang bahwa sampai hari
        ini aku pun masih belum tahu siapa orang baik itu.

          “Kameranya bagus, fotografernya apik, tapi satu pun fotonya belum pernah saya lihat,”
        katanya lagi.

          Kali ini aku terbahak. Betul sekali. Dari semua fotografer yang pernah mampir kemari,
        mungkin akulah yang paling absurd. Rol filmku menumpuk, menganggur berbulan-bulan.

        Tak ada satu pun yang tercetak. Aku cuma bisa berusaha menyimpannya sebaik mungkin
        di  kotak  plastik  kedap  air  bersama  kantong-kantong  silica gel  yang  kukumpulkan  dari
        bekas-bekas kemasan. Berharap calon-calon fotoku belum rusak dimakan lembap.

          “Cetak foto mahal, Bu. Lebih murah beli film,” celetukku spontan. Sesaat kemudian aku
        menyesal.  Tidaklah  bijak  menyinggung  perihal  uang  yang  berpotensi  menyinggung
        perihal gaji yang ujung-ujungnya berpotensi menyinggung perihal statusku di sini. Aku
        belum ingin keluar dari Firdaus.


          “Bagaimana  kamu  bisa  tahu  skill  kamu  berkembang  kalau  hasilnya  nggak  pernah
        dicetak?”

          “Nggak  apa-apa,  Bu.  Di  sini  saya  belajar  banyak  hal  lain.  Nggak  cuma  fotografi,”
        jawabku.  “Saya  masih  bisa  belajar  motret  nanti-nanti,  tapi  belum  tentu  saya  punya
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122