Page 118 - Supernova 4, Partikel
P. 118

kesempatan belajar di sini lagi.”

          Aku  berharap  jawabanku  barusan  mengunci  topik  cetak-mencetak  foto  ini.  Dan,
        kelihatannya aku berhasil. Ibu Inga tidak melanjutkan pembicaraan kami.




        Seminggu kemudian, di kamp digelar acara. Barangkali inilah format terdekat dari “pesta”
        yang bisa kami gelar di sini. Semua staf berkumpul dan kami makan bersama. Tentunya

        dengan  tamu-tamu  khusus,  yakni  para  orangutan  yang  tidak  mau  berpisah  dengan  para
        pengasuhnya.  Sarah  ikut  bergabung.  Dengan  lahap  ia  ikut  memakani  nasi  putihku,
        dicampurnya dengan nenas dan rambutan.

          Kami berkumpul untuk melepas Ibu Inga kembali ke Kanada. Sehabis setengah tahun
        tinggal  di  Tanjung  Puting,  secara  berkala  Ibu  Inga  kembali  ke  tanah  airnya.  Setengah
        tahun ke depan tempat ini akan kehilangan ratunya.


          Selepas  makan  malam,  sebelum  kami  menuju  tempat  tidur  masing-masing,  Ibu  Inga
        memanggilku yang sudah hampir keluar dari pintu.

          “Zarah, bisa ke sini sebentar?”

          Buru-buru aku menghampirinya.

          Sambil  membereskan  piring,  ia  berkata  selewat,  “Kamu  boleh  tinggal  di  sini  selama
        yang kamu mau. You’re a family now.”

          Sementara  perempuan  itu  terus  asyik  beres-beres  meja  tanpa  menyadari  dampak
        ucapannya, aku menahan beludak perasaan yang rasanya hampir melumpuhkan.

          “Terima kasih, Bu,” ucapku gemetar.

          “Good night,” ia membalas singkat.

          Tak  ada  lanjutan  diskusi  tentang  status  pegawai,  gaji,  izin  tinggal,  dan  sebagainya.

        Namun, kalimatnya barusan adalah segel yang menjamin keberadaanku di sini. Titahnya
        adalah titah seorang ratu. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup.




        Sehari setelah mengantar Ibu Inga, Pak Sulis kembali ke kamp membawa banyak barang.

          “Memangnya sudah harus ambil logistik lagi, Pak?” tanyaku. Seingatku baru beberapa
        hari yang lalu Pak Sulis ke Pangkalan Bun untuk belanja mingguan.

          “Ini buatmu,” katanya sambil meletakkan barang-barang itu di serambi.


          Aku langsung terlonjak dari tempatku duduk, mengecek apa saja yang Pak Sulis bawa.
        Satu rol besar kertas film, tiga jeriken besar cairan emulsi untuk memproses foto, kanister,
        bak plastik persegi panjang, dan satu kantong berisi alat-alat kecil seperti pinset, penjepit,
        dan lain-lain.

          “Ini semua dari mana, Pak?”

          “Dari Ibu. Ibu pesan dari Palangkaraya. Untukmu cetak foto, katanya,” jawab Pak Sulis
   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123