Page 119 - Supernova 4, Partikel
P. 119

kalem. Sementara itu, aku nyaris pingsan melihat harta karun yang dibawanya.

          Petang itu juga, bermodal sekat dari papan dan tirai, aku membuat kamar gelap mungil.
        Kucicil  proses  cetak  fotoku.  Berhari-hari.  Hingga  satu  demi  satu  rol  film  dalam  kotak
        plastikku habis. Berganti menjadi tumpukan ratusan foto. Kupilih dua puluh lembar yang
        terbaik dan kukirimkan ke alamat Ibu Inga di Kanada.

          Kira-kira  sebulan  setengah  kemudian,  balasannya  tiba.  Sebuah  kartu  pos  bergambar

        warna-warni hutan maple pada musim gugur. Di baliknya tertorehlah tulisan tangan Ibu
        Inga dengan tinta hitam:





          Dear Zarah,

            Thank you for the beautiful pictures. I love them. You have special eyes. Cannot wait

          to see you grow as a professional photographer.

                                                                                                         Love,

                                                                                                          Inga





          Aku  tercenung  lama.  Menatap  potongan-potongan  kalimat  itu  berulang-ulang.

        Merasakan  gelombang  haru  dan  bangga  yang  menderu  setiap  kali  aku  mengulang
        membaca.

          Bagai  surat  cinta  dari  kekasih,  kartu  pos  itu  kutempel  dengan  selofan  di  tembok
        ranjangku.  Kupandangi  setiap  malam  sebelum  tidur.  Tak  ada  lagi  momen  yang  lebih
        menguatkan bagiku.

          Tiga tahun berlalu. Dan, kartu pos itu terus melekat di sana.

                                                                                                             12.

        Pada  Agustus,  beberapa  hari  setelah  ulang  tahunku  yang  ke-20,  rombongan  serbabesar
        datang ke Tanjung Puting.

          Mereka datang dari Inggris, dari sebuah stasiun televisi besar yang ingin membuat film

        dokumenter tentang orangutan. Mereka datang menyewa tiga kelotok ukuran besar dan
        empat  perahu  motor  cepat.  Membawa  peti-peti  kayu  besar  yang  berisi  perlengkapan
        shooting. Dan, peti-peti berisi kaleng bir.

          Di antara rombongan tiga puluh orang itu, ada lima orang perempuan, sisanya laki-laki.
        Besar-besar. Tapi, ada satu pria yang ekstrabesar. Bukan besar melebar, tapi menjulang.
        Mencuatkannya di antara orang-orang besar lain di rombongan besar itu.

          Belum pernah kulihat manusia setinggi itu sebelumnya. Tingginya barangkali dua meter.

        Tidak berotot-otot mekar, tapi tegap proporsional. Dengan kacamata hitam terparkir di tepi
        kening, dua anting membolongi kuping, ia tampak seperti kapten bajak laut modern yang
        berlayar di atas perahu motor cepat. Kepalanya yang botak licin tampak kontras dengan
   114   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124