Page 120 - Supernova 4, Partikel
P. 120

tubuhnya yang penuh rambut. Garis-garis mukanya tegas, ditopang rahang yang berjejak
        kehijauan pasca-bercukur. Alisnya tebal hingga hampir membentuk satu garis. Matanya
        besar,  menjorok  ke  dalam,  dengan  bola  mata  berwarna  hazel.  Warna  yang  meleburkan
        batas  antara  cokelat  muda,  hijau,  dan  biru.  Belum  pernah  kulihat  mata  dengan  warna
        seperti itu.

          Ia datang dengan perahu pertama. Terlepas dari ukurannya, pria itu melangkah dengan

        ringan.  Menyeruak  dari  kumpulan  orang  dan  langsung  memeluk  Ibu  Inga  yang  berdiri
        menyambut. Ibu Inga yang cukup tinggi berubah mungil dalam rengkuhan pria itu.

          “Paul! Welcome back,” sapa Ibu Inga.

          “I  always  miss  this  place,  Dr.  D,”  Paul  menyapa  balik.  Dengan  senyum  lebar  di
        wajahnya,  ekspresi  kencang  yang  diakibatkan  garis  muka  kerasnya  itu  berubah  drastis
        menjadi hangat dan ramah.

          Ia  menyapa  staf  yang  berdiri  di  belakang  Ibu  Inga,  termasuk  aku,  dengan  ucapan,
        “Selamat siang! Apa kabar?”


          Kami  pun  melongo.  Tak  menyangka  akan  mendengar  kata-kata  bahasa  Indonesia
        terlontar dari mulutnya.

          “K–kabar baik,” kataku gugup sambil menyambut jabat tangannya yang kokoh.

          Paul menjadi kejutan pertama yang mengawali hari-hari sibuk di kamp. Selama aku di
        sana, belum pernah kulihat kamp seramai ini, baik oleh jumlah manusia maupun aktivitas.
        Perlengkapan  mereka  yang  seabrek  mulai  diturunkan,  sebagian  staf  dan  kru  lokal  yang
        mereka bawa sibuk membangun tenda ekstra untuk tim dokumenter itu bekerja. Orang lalu
        lalang, suara-suara saling silang, kamp ini tahu-tahu berubah seperti pasar malam.


          Orangutan pun tak ketinggalan ikut mengantisipasi perubahan mendadak itu. Di tengah
        kesibukan kami, tiba-tiba terdengarlah panggilan panjang dari orangutan jantan superior di
        sini,  Ganda.  Semua  kuping  langsung  siaga.  Panggilan  panjang  Ganda  yang  bergema
        mengisi ruang hutan sejenak membekukan kegiatan mereka.

          Raja lokal kami dengan lantang menegaskan posisinya kepada orang-orang asing yang
        membanjiri teritori kekuasaannya.





        Paul  Daly,  30  tahun.  Baru  belakangan  aku  mengetahui  nama  lengkap  dan  usianya.
        Belakangan  aku  pun  mengetahui  bahwa  ini  bukan  kunjungan  pertama  Paul  ke  Tanjung
        Puting. Sudah tiga kali ia kemari, dengan tiga rombongan yang berbeda.

          Sebagai orang bertampang lokal dan dianggap lancar berbahasa Inggris, aku termasuk
        orang yang paling sering ditanya dan diajak ngobrol. Termasuk oleh Paul.

          Pembicaraan kami singkat-singkat dan seperlunya. Paul terlihat sebagai salah satu orang
        tersibuk di rombongan. Aku tak bisa menebak pasti apa sebetulnya fungsi Paul di tim itu.
        Ia sering kulihat memotret, dan dari caranya menguasai kamera, aku bisa tahu bahwa Paul

        seorang fotografer profesional. Tapi, ia tidak melulu memotret. Lebih sering Paul terlihat
        seperti  public  relation  atau  sejenisnya.  Ia  menjadi  semacam  komunikator  yang
   115   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125