Page 121 - Supernova 4, Partikel
P. 121

menjembatani  timnya  dan  Ibu  Inga,  timnya  dan  masyarakat  lokal.  Ia  bahkan  kelihatan
        sibuk  menjembatani  divisi-divisi  dalam  timnya  sendiri.  Singkat  kata,  Paul  seperti  jubir
        semua pihak.

          Sungguh. Sama sekali tidak susah mengamati gerak-gerik Paul. Dengan ukuran seperti
        itu, ia menjadi hal paling mencolok pertama yang tertangkap mata kami setiap hari.

          Sampai akhirnya suatu pagi, pada hari yang kuduga sebagai hari istirahat karena kamera-

        kamera  libur  beroperasi  dan  sebagian  besar  rombongan  bertolak  ke  kota,  Paul
        mendatangiku.

          “Kami mau trekking ke Pesalat. Ikut? Bawa kamera kamu sekalian.”

          Refleksku pertama adalah mengatakan “iya”. Berikutnya, aku baru berpikir, dari mana
        Paul tahu aku juga memotret dan punya kamera?

          Pertanyaan itu baru terjawab ketika kami sudah tiba di Pondok Tanggui, yang dari sana
        kami harus berjalan kaki menuju Pesalat. Kami bertiga saat itu. Aku, dia, dan seorang lagi
        bernama Gary Anderson. Dia lebih muda daripada Paul, rambutnya keriting, berkacamata.

        Dari  penampilan  dan  gesture  tubuhnya,  ia  tampak  lebih  cocok  ada  di  perpustakaan
        ketimbang di hutan. Sementara aku dan Paul hanya mengalungi tas kamera kecil, Gary
        jauh  lebih  niat.  Ia  membawa  satu  ransel  besar  berisi  perlengkapan  memotret  yang
        membebani pundaknya sampai jalannya doyong.

          “Kata Dr. D, kamu fotografer. Sudah memotret ke mana saja?” tanya Paul.

          Mendengar  pertanyaan  Paul,  tawaku  langsung  menyembur.  “Kayaknya  saya  belum
        pantas disebut fotografer. Cuma hobi. Saya juga nggak pernah foto ke mana-mana. Cuma
        di sekitar tempat saya tinggal. Kebetulan, sekarang di sini.”


          “Oh, ya?” Paul mengangkat alis. “Tapi, kata Dr. D, kamu bisa ke sini gara-gara lomba
        foto?”

          Aku nyengir. Mungkin Paul membayangkan ajang sekelas British Wildlife Photography
        Award. “Well, bagian itunya, sih, betul. Tapi, saya sama sekali bukan profesional.” Dan,
        detik  berikutnya  baru  aku  berpikir,  kenapa  Ibu  Inga  dan  Paul  sampai  bisa
        membincangkan asal muasalku kemari?

          “Kamu motret pakai apa? Film? Digital?” tanya Gary kepadaku.

          “Film. Nikon.”

          “Hear that, Paul?” Gary nyengir. “He’s a Canon lad,” bisiknya kepadaku. Keras-keras.


          “Yang penting itu bukan kameranya. Tapi, orang yang di belakang kamera,” balas Paul
        kalem.

          “Yeah,  right.”  Gary  berlagak  menguap.  Dan,  ia  berbisik  lagi  kepadaku,  lebih  keras,
        “Kalau yang kameranya Nikon, sih, nggak bakal ngomong gitu.”

          Aku cuma ikut mesem-mesem.

          “Boleh lihat kameramu?” kata Paul kepadaku.
   116   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126