Page 122 - Supernova 4, Partikel
P. 122

Begitu kukeluarkan kameraku dari tas, Gary langsung menganga. “Holy Mary, Mother
        of God!” serunya. Ia menatapku tak percaya. “Is that—? Is that what I think it is?”

          Aku bingung melihat reaksi dahsyat Gary. “Mmm… FM2/T?” kataku hati-hati.

          “Jesus in heaven!”  teriaknya  lagi.  “Paul!  Dia  punya  FM2/T!  Nikon  Titanium  limited
        edition Year of the Dog, keluaran ‘94, cuma dibikin tiga ratus unit di dunia.” Lalu, Gary
        melihatku lagi. “Kok, bisa?” tanyanya. Tidak terima.

          “Sejujurnya, saya nggak pernah tahu, karena bukan saya yang beli. Saya dikasih.”


          “Beruntungnya kamu,” geram Gary seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.

          “Dikasih siapa?” Paul bertanya.

          Aku  menghela  napas.  “Nggak  tahu.  Suatu  hari,  ada  paket  tanpa  pengirim  sampai  ke
        rumah saya. Isinya, ya, kamera ini.”

          Mendengarnya,  Gary  langsung  mengusap-usap  wajahnya  dengan  handuk  yang
        tergantung di bahu.

          “Ini  kali  pertama  dia  memotret  di  negara  tropis.  Isn’t  that  right,  Anderson?”  Paul
        menepakkan tangannya yang selebar bat pingpong ke punggung Gary yang sudah terlapisi
        ransel besar. Gary terhuyung.


          “The heat is unbelievable.” Gary mencoba tersenyum sambil menyeka peluhnya. Aku
        tak tahu keringat itu membanjir karena panas udara atau panas kepadaku karena memiliki
        kamera Nikon langka yang sepertinya amat ia puja-puja.

          “Dari dulu selalu motret wildlife?” tanyaku kepada Gary.

          “Saya  sebetulnya  mengkhususkan  diri  ke  fotografi  lanskap,”  jawabnya.  “Tapi,  waktu
        diajak Paul ke sini, saya nggak mungkin menolak. Borneo is an opportunity of a lifetime.”

          Giliran Paul yang pura-pura berbisik kepadaku, “Animals make him nervous.”

          Aku tidak bisa menahan tawa. “Mana mungkin bisa menghindari binatang kalau bidang
        kita fotografi alam?”

          “Yeah. Bummer,” sahut Gary, ikut nyengir.

          “Jadi,  kamu  fotografer  lanskap  yang  juga  kerja  di  televisi.  Begitu?”  Aku  mencoba

        menyimpulkan.

          “Saya bukan bagian dari kru televisi. Saya fotografer freelance,” jawab Gary.

          “Oh. Jadi, mereka menyewa kamu khusus untuk motret?”

          “No. They hire Paul.”

          “So, you work for Paul?”

          “Sort of,” jawab Gary, tapi sebentar kemudian dia meralat, “actually, not yet. I’m still
        —”

          “Dia masih magang,” sela Paul.
   117   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127