Page 123 - Supernova 4, Partikel
P. 123

Aku  berusaha  mencerna  informasi  yang  agak  membingungkan  itu.  “Oke.  Jadi,  kamu
        punya perusahaan sendiri? Bidang apa?” tanyaku kepada Paul.

          Paul  dan  Gary  malah  pandang-pandangan.  “It’s  a  little  complicated,”  jawab  Paul
        akhirnya. “Bentuknya bukan perusahaan. Saya menyebutnya The A-Team.”

          “Have you watched the series?” Gary malah bertanya dengan semangat.

          “Pernah,” jawabku. Di Balai Desa Batu Luhur ada satu televisi ukuran besar. Penduduk
        yang tak bertelevisi memanfaatkannya untuk nonton ramai-ramai. Serial “The A-Team”

        adalah salah satu program yang ditunggu-tunggu. Waktu kecil, satu-satunya kesempatanku
        nonton televisi adalah jika sedang menginap di rumah panggung Batu Luhur. Sengaja aku
        menghafal jadwal program yang kusuka. Lalu, aku bersepeda bolak-balik ke balai desa,
        sore  dan  malam,  untuk  duduk  menonton  di  tikar  bersama  yang  lain.  Tetap  belum  bisa
        kupahami hubungan “The A-Team” dengan pekerjaan Paul.

          Melihat  muka  bingungku,  Paul  berbaik  hati  menjelaskan.  “Jadi,  The  A-Team  di  sini
        adalah kumpulan orang-orang gila, suka fotografi, senang bertualang, suka tantangan, mau

        ditempatkan di mana saja, dan mau disuruh apa saja.”

          “Wow,” decakku. “Saya belum pernah dengar ada pekerjaan kayak gitu.”

          “Of course. That’s why I called it The A-Team. We’re somewhat invisible,” celetuk Paul,
        “yet we’re everywhere.”

          Aku menahan geli. Paul begitu mencolok bagai jerawat batu. Bagaimana mungkin dia
        bisa “tak terlihat”?

          “Jadi, Paul seperti Hannibal di serial ‘The A-Team’?” kataku lagi.

          “Yes. Dia adalah koordinator sekaligus muncikari kami,” Gary nyengir.

          Selama perjalanan, akhirnya Paul bercerita panjang lebar tentang entitas “ajaib” berjudul

        The A-Team.
          Sejak remaja, Paul sudah hobi memotret, dan menjadi profesional sejak awal usia 20-an.

        Paul  menggolongkan  dirinya  sebagai  fotografer  yang  beruntung.  Hadir  di  momen  yang
        tepat, tempat yang tepat, dan ajang yang tepat. Foto-fotonya sudah beredar di National
        Geographic, Nature History, Outdoor Photographer, juga dibeli dan direproduksi dalam
        bentuk buku, poster, kalender, dan sebagainya. Tapi, di luar itu semua, menurut Paul, skill
        yang membawanya hingga ke titik ini adalah kemampuan sosialisasinya.

          Paul  punya  jaringan  yang  luas  ke  media,  NGO,  organisasi-organisasi  lingkungan,

        korporat.  Ia  menjadi  orang  yang  selalu  ada  di  irisan  antara  institusi-institusi  tersebut.
        Akibat  koneksinya  yang  luas,  Paul  dengan  mudah  berpindah-pindah  negara,  memasuki
        lokasi-lokasi  yang  terpencil,  mendapat  akses  ke  berbagai  pemandangan  alam  yang  luar
        biasa, yang akhirnya semakin memperkaya portofolionya.

          “Wildlife photography is a very tough business,” jelas Paul. “Sangat susah bagi seorang
        fotografer wildlife  bisa  sampai  ke  tahap  dia  dibayar  mahal  untuk  jasanya.  Bisa  makan
        waktu bertahun-tahun. Satu sesi fotografi fashion bisa selesai dalam waktu setengah hari.

        Sementara itu, untuk satu esai foto, fotografer wildlife harus diam di satu tempat berbulan-
   118   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128