Page 124 - Supernova 4, Partikel
P. 124

bulan. Dan, seberapa sering kita punya kesempatan untuk bisa ke tempat-tempat seperti
        Kalimantan, Afrika, Alaska? Pergi sendiri, mahal. Cari sponsor? Kita harus punya posisi
        dan misi yang jelas. It’s not the most profitable profession in the world. But, we love it and
        we still need to pay our bills. So, how?”

          Untuk  itu,  Paul  memanfaatkan  jaringan  yang  ia  punya.  Selama  empat  tahun  terakhir,
        Paul  menyusupkan  rekan-rekannya  ke  berbagai  proyek  di  seluruh  dunia—sesama

        fotografer wildlife yang tidak seberuntung Paul, tapi memiliki bakat dan potensi bagus.
        Jika ada penelitian jurnal medis ke Afrika untuk meneliti AIDS, misalnya, untuk jadi tim
        pengawal para peneliti itu, Paul akan menyisipkan satu rekannya. Tugasnya bisa jadi tidak
        cuma  memotret,  tapi  jadi  seksi  sibuk  yang  siap  disuruh  apa  saja.  Honornya  juga  tidak
        besar. Tapi, si fotografer diuntungkan dengan kesempatan gratis pergi ke alam bebas yang

        ia inginkan, mengambil foto-foto bagus, dan dari sana ia memiliki modal untuk kariernya.
          The  A-Team  bukan  tempat  permanen.  Paul  hanya  menyediakan  sarana  transisi  dan

        penggemblengan. Banyak lulusan The A-Team yang akhirnya menjadi fotografer wildlife
        ternama  akibat  menang  lomba  dan  kemudian  jasanya  dipakai  oleh  majalah-majalah
        prestisius.  Para  alumnus  tersebut  selamanya  berutang  budi  kepada  Paul.  Untuk  Paul,
        mereka akan selalu menyediakan ruang buat membantu apa saja. Siklus itu pun tergenapi.
        Dengan “daftar alumnus” yang ia miliki dan kejeliannya  mengendus  bakat,  kredibilitas

        Paul terus meningkat. Ia menjadi orang yang dicari jika ada institusi atau apa pun yang
        membutuhkan jasa fotografer garis miring orang gila yang mau ditempatkan di mana saja
        dengan tugas apa saja. Kali ini, orang itu adalah Gary.

          “Tapi, kamu sendiri masih memotret?” tanyaku kepada Paul.

          “Of course.” Pria itu tersenyum simpul. “But I’m not driven by the ambition of being
        the best photographer anymore. If I get a shot, great. If I don’t, fine. Saya lebih senang
        jalan-jalannya.”

          Dalam  hati,  aku  punya  tebakan  lain.  Yang  Paul  nikmati  sesungguhnya  adalah

        pengalaman menolong teman-temannya maju; posisinya sebagai mentor. Menurutku, ada
        manusia-manusia yang memang tercipta untuk menjadi seperti Paul. Ia terpanggil sebagai
        pemberi jalan. Sementara orang-orang yang diberinya jalan lantas berlari, ia hanya berdiri
        santai mengamati. Tugasnya hanya menjaga gerbang yang telah ia bangun.

          Dua  jam  sudah  kami  berjalan.  Beberapa  kali  berhenti  untuk  memotret.  Aku  belum
        tergerak mengeluarkan kameraku. Aku hanya menontoni Gary dan Paul yang memotret
        menggunakan kamera digital keluaran terbaru dengan lensa tele sebesar termos.

          Mereka mengintai  seekor  rusa  sambar  yang  tengah  memakan  dedaunan.  Rusa  adalah
        hewan  yang  sangat  pemalu.  Posisinya  sebagai  hewan  yang  dimangsa  membuat  refleks

        minggat  mereka  sangat  kuat.  Begitu  merasakan  kehadiran  pengintai,  rusa  akan
        menghilang dalam sekelebat gerak.

          Berkat bantuan lensa tele dan posisi strategis di belakang semak, Gary dan Paul dapat
        mengambil gambar dengan tenang. Aku duduk menunggu di atas batang kayu.

          Tiba-tiba,  leher  rusa  itu  menegak.  Tubuhnya  menegang.  Daun  di  mulutnya  berhenti
   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129