Page 125 - Supernova 4, Partikel
P. 125

dikunyah. Ia mencium bahaya. Kami pun ikut mematung.

          Terdengar kersuk gesekan ranting dan dedaunan. Arahnya datang dari belakang. Ketika
        aku menoleh ke depan, rusa itu sudah melesat kabur. Ternyata bukan kami bahaya yang
        dideteksinya. Ada bahaya lain.

          Sebelum kami sempat bereaksi, muncullah dua ekor beruang. Beruang madu Kalimantan
        tidak sebesar grizzly. Tingginya hanya sedikit di bawah dada. Tapi, beruang adalah hewan

        yang galak dan tak ragu berkonfrontasi. Belum lama, kamp sempat dihebohkan dua orang
        turis  yang  nekat  trekking  tanpa  dikawal  ranger.  Mereka  diserang  beruang.  Yang  satu
        pulang dengan tangan sobek, yang satunya lagi sobek di paha.

          Paul kelihatan lebih  mampu  menguasai  diri.  Gary  yang  kukhawatirkan.  Air  mukanya
        tegang bukan kepalang, ia bagai benang yang siap putus kapan saja.

          Satu  petunjuk  wajib  yang  selalu  diperingatkan  para  ranger  kepada  pengunjung  hutan
        adalah:  hindari  konfrontasi  dengan  hewan.  Tetapi,  ada  satu  hal  lain  yang  tidak  bisa
        dianjurkan,  juga  tak  bisa  diajarkan,  yang  sebetulnya  amat  penting  ketika  berhadapan

        dengan hewan liar. Ada momen tatkala kita perlu menunjukkan dominasi. Ada momen
        tatkala kita harus diam membatu. Ada pula momen tatkala yang terbijak adalah lari. Dan
        dibutuhkan insting jitu untuk menentukan momen manakah yang tengah kita hadapi.

          Satu beruang sudah cukup membuat repot. Dan kini, ada dua. Mereka menatap kami,
        dua manusia dengan posisi memunggungi dan satu manusia lagi di arah samping. Kedua
        beruang itu tampak menimbang-nimbang apa yang harus dilakukan. Satu gerakan salah
        bisa jadi fatal.


                                                                                                             13.

        Dengan satu gerakan, aku menyambar tongkat panjang dan melompat. Berdiri tegak di
        antara kedua beruang itu dan kedua rekanku. Beruang-beruang itu marah, memperlihatkan
        gigi-gigi  mereka  yang  tajam,  satu  berusaha  mencakarku.  Dengan  suara  kencang  aku
        membentak,  balik  menggertak,  mengayunkan  tongkatku  dengan  gerakan  mengancam.
        Kuburu sorot mata mereka, tak kulepas.

          Beberapa menit kami adu gertak. Beberapa menit yang terasa begitu lama, seolah waktu
        tak  berjalan.  Akhirnya,  satu  beruang  mulai  mengendur.  Pelan-pelan,  ia  mulai  mundur.

        Melihat temannya mundur, yang satu ikut surut. Mereka lalu membalik badan. Berjalan
        dan menghilang di hijaunya hutan.

          Gary langsung merosot, terduduk di tanah dengan muka pucat. “Bloody hell!” teriaknya.

          Aku pun ikut mengatur napas. Adrenalin yang kini membanjir membuatku gemetaran.

          Paul menatapku tajam. “You’ve dealt with bears like that before?”

          Kepalaku menggeleng.

          “Then why did you do that?”

          Aku menatapnya bingung. “Did what?”

          “Kenapa kamu nekat pasang badan? Harusnya saya yang ambil posisi itu. I’m bigger
   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130