Page 127 - Supernova 4, Partikel
P. 127

Para ranger tertawa-tawa. Mengenal aku selama tiga tahun, mereka punya stok cerita
        lebih  banyak.  Mereka  bercerita  kisahku  menepis  ular  dengan  satu  tangan.  Mereka
        bercerita kisahku merendam diri di rawa berjam-jam demi memata-matai burung sindang
        lawe.  Mereka  bercerita  kisahku  memanjat  pohon  selincah  monyet  akibat  dikejar  babi

        hutan.

          Dalam  semalam,  reputasiku  langsung  berubah.  Kini  aku  dikenal  sebagai  Zarah  si
        Jelmaan  Tarzan.  Para  kru  televisi  itu  bahkan  mulai  mengkhayalkan  serial  berjudul
        Tarzane, semacam gabungan dari tokoh Tarzan dan kekasihnya, Jane.

          Setelah  kenyang  menjadi  topik  bulan-bulanan  malam  itu,  aku  menyelinap  keluar.
        Melamun di depan barak. Ucapan Paul mulai mengendap, membuatku termenung. Kadang

        kala, batas antara intuitif, nekat, mujur, dan bodoh, amatlah tipis. Bisa saja yang terjadi
        adalah  kombinasi  keempatnya  secara  bersamaan.  Mana  dari  empat  elemen  itu  yang
        kadarnya lebih banyak, itulah misteri yang tersisa. Tapi, jelas bagi Paul, tindakanku tadi
        siang didominasi oleh kebodohan.

          Aku tidak terima.

          Malam itu juga, aku mendatangi Paul. Dia termasuk rombongan yang menginap di darat,
        di salah satu ruang barak yang disiapkan bagi kru televisi. Kulihat dia sedang berbaring
        santai di atas hammock.  Mata  terpejam,  kaleng  bir  dingin  di  dada,  obat  nyamuk  bakar
        mengepul dari lantai.


          “It wasn’t stupidity.”

          Paul membuka matanya. Mendapatkanku sedang berdiri di sampingnya. Cemberut.

          Pria itu pun duduk tegak, menghadapiku. “So, what do you think that was, Missy?” ia
        bertanya. Lembut. Itulah kali pertama dia memanggilku “Missy”.

          “It was the right thing to do,” aku menjawab tegas.

          Tak diduga-duga, Paul tersenyum. “Saya setuju,” katanya pendek.

          “Sebentar. Kamu setuju?”

          “Pada situasi seperti itu, setiap tindakan adalah hasil dari ribuan kalkulasi yang terjadi
        bersamaan.  Kita  menyebutnya  insting.  Tapi  di  balik  itu,  ada  proses  perhitungan  yang
        supercepat,  seolah  kita  tidak  lagi  berpikir.  Kamu  mampu  berhitung  dalam  situasi  krisis

        tanpa  dilumpuhkan  ketakutan.  Semua  itu  cuma  bisa  dihasilkan  oleh  kematangan,  dan,
        barangkali, bakat alam. I know you’re very young. But I really admire your courage and
        poise.”

          Aku cuma bisa diam dan menelan ludah.

          Terdengarlah bunyi entakan tajam. Paul membuka kaleng birnya dengan sekali jungkit.
        “Bir di sini cepat sekali jadi hangat,” komentarnya, lalu dengan wajah lurus ia menenggak
        bir, seakan pembicaraan kami telah selesai.

          “Kalau begitu, kenapa tadi kamu marah?” desakku lagi.
   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132