Page 128 - Supernova 4, Partikel
P. 128

“Dalam  grup  kecil  kita  tadi  siang,  harusnya  saya  jadi  jantan  superior.  Tugas  sayalah
        untuk  melindungi  kalian.  Tiba-tiba,  seorang  anak  cewek  kurus,  yang  tingginya  cuma
        sedada saya, berani-beraninya pasang badan di depan dua beruang. Sepercaya-percayanya
        saya  sama  emansipasi  perempuan,  pada  situasi  seperti  tadi,  sayalah  yang  harusnya
        melindungi  kamu.  Nah,  kembali  ke  pertanyaanmu.  Apakah  saya  marah?  Nggak.  Saya

        nggak  marah.  Saya  cuma  bereaksi  sebagaimana  normalnya  jantan  yang  harga  dirinya
        terluka. Ngerti?”

          Jawaban  Paul  membuatku  terkesiap.  Tahu-tahu,  tangannya  mengibas  seperti  hendak
        mengusir  nyamuk,  di  wajahnya  tersungging  senyum  lebar.  “Oh,  please.  If  one  day  we
        bump into a grizzly, I’ll let you fight him,” ia lalu terbahak, “happily!”

          Tidak  kubayangkan  saat  itu  bahwa  bertahun-tahun  kemudian,  kami  menjadi  sahabat
        dekat.  Dan  setelah  bertahun-tahun  kami  dekat,  tetap  tidak  bisa  aku  menebak  kapan  ia
        sepenuhnya bercanda dan kapan ia sepenuhnya serius. Adalah ciri khas sekaligus keahlian

        Paul untuk mengaburkan keduanya.




        Dari jadwal syuting dua minggu, tinggal empat hari tersisa bagi mereka di Tanjung Puting.

          Dari seorang staf, aku diberi tahu bahwa Paul sedang mencariku. Aku menemuinya di
        rumah pusat edukasi. Di sana, di dinding kayu yang bercat biru, terpajang puluhan foto
        karyaku.  Ibu  Inga  yang  memasang.  Paul  kutemukan  sedang  berdiri  mempelajari  foto-

        fotoku.

          “Hai, Paul. Kamu cari saya?” aku menyapa.

          “You made all these with only 50 milimeter lens?” tembaknya langsung.

          “Iya.”

          “Tanpa retouch dan sejenisnya, kan?”

          Aku tersenyum. “I shoot on film, Paul.”

          “Yes, silly me,” Paul geleng-geleng kepala. Dia lalu menunjuk foto buaya muara yang
        kudapat  dari  ketinggian  garis  mata.  “Ini.  Untuk  bisa  dapat  foto  ini,  berarti  kamu  harus
        sangat dekat sama buayanya, kan?”

          “Iya. Waktu itu saya masuk ke batang pohon yang ada di pinggir sungai. Saya motret
        dari dalam situ.”


          “Berapa lama kamu diam di batang pohon?”

          “Hampir dua jam. Waktu buayanya masuk sungai baru saya keluar. Kulit saya bentol-
        bentol seminggu. Nggak tahu lagi ada serangga apa saja yang nancap di badan.”

          “And this is storm’s stork. Salah satu burung terlangka di dunia.”

          “Ciconia stormii. Di sini kami menyebutnya sindang lawe,” sahutku.

          “You can easily sell this stork series to Nat Geo or any world-class wildlife magazine,
        you know that?”
   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133