Page 129 - Supernova 4, Partikel
P. 129

“Oh, ya?” kataku lugu.

          Paul  menggeser  dua  kursi,  dan  kami  pun  duduk  berhadapan.  “Saya  tahu  kamu  cinta
        tempat ini. Saya tahu kamu salah satu ibu adopsi orangutan di sini. Dan, saya tahu kamu
        salah  satu  orang  kepercayaan  Dr.  D.  Tapi,  intuisi  saya  mengatakan,  kamu  bisa  jadi
        fotografer wildlife yang hebat. Untuk itu, kamu harus berani keluar dari Tanjung Puting.”

          “K–ke mana?” Aku tergagap.

          “Would you like to join The A-Team?”


          Mulutku terkunci. Saking kagetnya, aku tak bisa memberikan respons apa pun.

          “Kamu punya kehidupan indah di sini bersama Dr. D, orangutan, staf yang sudah seperti
        keluargamu sendiri, tapi ini semua nggak cukup. Kalau kamu mau berkembang sebagai
        fotografer wildlife profesional, kamu harus lihat dunia. Kamu harus mengalami hutan lain,
        alam lain, negara lain. Cuma dengan begitu kamu bisa berkembang.”

          Aku masih tidak bisa bersuara.

          “Kamu punya empat hari untuk berpikir. Kalau kamu setuju, saya kasih waktu dua bulan
        untuk kamu persiapan. Setelah itu, kamu terbang ke London.”

          Akhirnya, sebuah pertanyaan mendesak naik. “Why are you doing all this? Kenapa ini
        bisa jadi sebegitu penting buatmu?”


          “Nggak semua orang bisa diam di dalam batang kayu dua jam untuk memotret buaya
        dari  jarak  dekat.  Kalau  kamu  nggak  ambil  foto  ini,  bagaimana  kita  bisa  tahu  rasanya
        kontak  mata  dengan  buaya?  Nggak  semua  orang  bisa  tahan  berbulan-bulan  di  Arktik
        mengintili  beruang  kutub.  Kalau  nggak  ada  yang  melakukannya,  bagaimana  orang  di
        belahan  dunia  lain  bisa  tahu  betapa  penting  dan  indahnya  beruang  kutub?  Bagi  saya,
        fotografi  wildlife  adalah  jembatan  bagi  orang  banyak  untuk  bisa  mengenal  rumahnya

        sendiri. Bumi ini. I see our profession as an important bridge that connects Earth and
        human population. We’re the ambassador of nature.”

          Ketika  mendengar  Paul  menyebut  “kita”,  bulu  kudukku  meremang.  Saat  itulah  aku
        menyadari panggilan hidupku.

          “Empat hari, Missy,” tegas Paul.




        London.  Di  sanalah  Paul  memintaku  bermarkas.  Ia  akan  membelikan  tiket,  mengurus

        sponsor untuk visa, dan mencarikan tempat tinggal sementara sampai aku mandiri.

          Jangankan  menetap,  aku  bahkan  tak  pernah  terpikir  sama  sekali  untuk  menginjakkan
        kaki ke Inggris. Ke kota besar macam London. Sarah, Ibu Inga, Tanjung Puting, keluarga
        besar  di  sini,  telah  menjadi  bagian  identitasku.  Aku  tak  tahu  apakah  sanggup
        meninggalkan tempat ini.

          Aku pun teringat keluargaku di Bogor. Hara, yang kutelepon dua minggu sampai sebulan
        sekali. Ibu, yang belum berbicara lagi denganku. Umi dan Abah, yang bertahun-tahun tak
        kulihat. Membayangkan apa yang terjadi jika aku nekat pergi sejauh itu.
   124   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134