Page 130 - Supernova 4, Partikel
P. 130

Malam  itu,  aku  tak  bisa  tidur.  Kupeluk  erat  Sarah  yang  tertidur  lelap  di  sampingku.
        Masih dua-tiga tahun lagi Sarah bisa mandiri. Kalau aku pergi, ia akan kehilangan ibunya
        untuk kali kedua.

          Aku  tahu,  tidak  semua  orangutan  di  sini  bisa  memiliki  pengasuh  yang  terus-terusan
        sama.  Ada  staf  yang  mungkin  hanya  bisa  bekerja  dua-tiga  tahun,  dan  mereka  harus
        mengalihkan  pengasuhannya  kepada  orang  lain.  Dan,  di  situlah  terjadi  transisi  yang

        menyakitkan, drama air mata. Aku tak pernah membayangkan hal itu terjadi kepadaku dan
        Sarah.  Melepas  Sarah  pulang  ke  hutan  adalah  cita-citaku  selama  ini.  Haruskah  aku
        kehilangan momen itu?

          Di dekat kupingnya aku berbisik, “Sarah, kalau aku pergi, kamu masih bakal ingat aku,
        nggak?”

          Hatiku remuk sendiri mendengarnya. Kalimat itu seperti menembuskan pisau ke dalam
        luka yang tak pernah sembuh. Luka yang amat kuhafal.

                                                                                                             14.


        Empat hari. Sekian saja waktu yang kupunya untuk mengambil keputusan terbesar yang
        pernah kubuat dalam hidupku. Dimensi waktu yang berjalan lamban di hutan ini tiba-tiba
        beroleh akselerasi luar biasa. Menit demi menit berlalu dengan cepat.

          Orang  pertama  yang  kuajak  bicara  adalah  Ibu  Inga.  Aku  menghadap  beliau  sesudah
        makan malam. Sesuai dengan tebakanku, Ibu Inga sudah tahu.

          “Paul yang kasih tahu Ibu?” tanyaku.

          Ibu  Inga  menggeleng.  “Sebelumnya,  saya  minta  maaf  kalau  saya  lancang,  Zarah.
        Sayalah yang duluan membuka pembicaraan dengan Paul tentang kamu.”

          Aku pun teringat perjalanan kami bertiga ke Pesalat. Kini aku mengerti.


          “Saya tahu pekerjaan Paul,” lanjut Ibu Inga. “Karena itulah saya bilang kepadanya, ada
        anak istimewa di tempat ini. Dia punya bakat fotografi, dia punya kedekatan alami dengan
        hutan, dengan alam. Biarpun anak itu sangat suka tinggal di sini, dia terlalu besar untuk
        dikurung  di  Tanjung  Puting.  Anak  itu  bisa  melakukan  hal-hal  yang  luar  biasa,  yang
        bahkan dia sendiri belum menyadari.”

          Jika  ada  alat  khusus  yang  bisa  melihat  rasa  bangga,  niscaya  akan  tampak  kepalaku
        membesar sampai menyentuh plafon. Kata-kata Ibu Inga menggelembungkanku sampai

        rasanya ingin meletus. Tapi, aku berusaha kembali realistis.

          “Saya nggak punya modal apa-apa untuk ke London, Bu….”

          Ibu  Inga  menyambar  buku  kuitansi  yang  tadi  sedang  ditulisinya  saat  aku  masuk.  Ia
        menunjukkan lembar bertuliskan namaku. Di bawahnya ada tujuh digit angka.

          “Kerjamu selama ini tidak gratisan. Kamu kerja sama kerasnya dengan staf lain. Ini bisa
        membantumu untuk memulai hidup di sana,” tandasnya.

          Tanpa terasa mataku basah. “Bagaimana dengan Sarah, Bu? Saya nggak tega….”
   125   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135