Page 132 - Supernova 4, Partikel
P. 132

“Hmmm. Mungkin. Setiap kamera FM2/T punya nomor seri di boksnya. Kalau boksnya
        masih ada, kamu bisa lacak.”

          “Saya masih punya boksnya.”

          “Then you have a chance.”

          “Cara tahu daftar pemiliknya gimana?”

          “I have no idea.”

          “Tapi, pasti ada caranya. Ya, kan?”

          “Sewa detektif?”

          “Gary, menurutmu, kalau saya cari di London, bisa ketemu, nggak?”

          “Kamu bakal ke London?”

          “Hmmm. Mungkin.”


          “Kalau pertanyaan kamu artinya: lebih besar mana kansnya, kamu melacak dari London,
        atau kamu melacak dari sini? Jawabannya jelas. London.”

          Detik itu rasanya keputusanku membulat. Aku menepuk bahu Gary, “Thanks!” Berseri-
        seri aku berjalan ke barak.

          “Tarzane! Are you really going to London?” teriak Gary.

          “YES!”





        Pada  hari  kepulangan  rombongan  dokumenter  itu,  aku  menumpang  kelotok  Paul  ke
        Pangkalan Bun. Jadwalku menelepon Hara telah tiba.

          Seperti biasa, aku mengabsen keadaan semua orang. Pertama, tentu saja, Hara. Adikku
        itu  baru  dapat  beasiswa  lagi.  Ia  mendapat  gratis  biaya  sekolah  penuh  untuk  semester
        depan. Sudah empat semester berturut-turut Hara dapat beasiswa. Dadaku sampai sesak
        oleh rasa bangga.

          Lalu, aku menanyakan Abah dan Umi. Hara bilang, mereka sehat-sehat. Sejak aku tidak
        lagi tinggal di Batu Luhur, Abah jadi sering menengok kampung. Sudah kuduga. Abah
        dan Umi kelihatan lebih tenang, Hara menambahkan. Adikku merasa lebih disayang. Itu

        pun aku tak heran. Dengan ketiadaan Ayah dan aku, Hara menjadi tumpuan mereka satu-
        satunya. Poros kebanggaan sekaligus harapan. Dan, adikku berhasil tumbuh besar sesuai
        dengan impian ideal mereka. Aku ikut bahagia.

          Kemudian, aku menanyakan kabar Ibu. Seketika kurasakan perubahan dalam suara Hara.
        Ia terdengar agak tertekan.

          “Ibu baik-baik, Hara?” aku mengonfirmasi.

          “Baik, Kak….”

          Suaranya jelas bimbang. Hara menyimpan sesuatu yang ragu ia sampaikan.
   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136   137