Page 131 - Supernova 4, Partikel
P. 131

“Kamu ingat apa yang dulu saya bilang tentang hubungan manusia dan orangutan?” sela
        Ibu Inga. “Manusialah yang akan sulit melepas, Zarah. Tiga tahun dari sekarang, Sarah
        akan kembali ke hutan dan dia tidak akan pernah menengok ke belakang. Bukan berarti
        dia lupa sama kamu. Ikatan orangutan terjadi sekali untuk selamanya. Tapi, dia tidak lagi
        butuh kamu. Dia akan jadi milik hutan. And as her mother, you have to let her go.”

          “Saya takut, Bu,” kataku pelan. “Saya takut Sarah mengira saya mengkhianatinya.”


          “Sarah  bukan  manusia.  Dia  orangutan.  Kamu  berusaha  melihat  dia  dari  sudut
        pandangmu. Bukan begitu caranya. Sarah melihat hidupnya dengan cara yang berbeda.”

          “Tapi, kasihan dia, Bu….”

          “Kamu  sudah  tiga  tahun  di  sini.  Kamu  lihat  sendiri  bagaimana  transisi  ibu  asuh  dan
        orangutan  yang  mereka  tinggalkan.  We’ve done  this,  many  times.  Tidak  mudah.  Tidak
        akan mudah juga untuk Sarah. Tapi sangat mungkin dilakukan. Paul sudah memberi waktu
        yang cukup.”

          “Ayah saya pergi dari rumah.” Suaraku bergetar saat mengatakannya. “Saya nggak mau

        mengulanginya.”

          Ibu Inga meletakkan tangannya di bahuku, menatapku dalam-dalam. Bagai mengeja, ia
        berkata, “Jangan bebani hubunganmu dan Sarah dengan hubunganmu dan ayahmu. It’s not
        fair for her. And stop being so hard on yourself.”

          Momen berikutnya, tubuhku direngkuh Ibu Inga. Mengenalnya selama tiga tahun, belum
        pernah ia memelukku selain malam itu.

          “Kamu akan baik-baik saja,” bisiknya.

          Pelukannya  malam  itu  adalah  restu  Ibu  Inga  untuk  melepasku  pergi.  Kami  bukan
        orangutan, tapi aku percaya ikatan kami adalah sekali untuk selamanya.





        Esok harinya aku mendatangi Gary.

          “Hey, Nikon lad,” sapaku.

          “Hey, Tarzane,” balasnya.

          “Gary, saya mau tanya tentang Nikon Titanium-ku….”

          “Kamu mau jual? Berapa?” sambarnya dengan mata membelalang.

          Aku terkekeh, “Saya bukannya mau jual.”

          “Oh.” Nyala di wajahnya langsung redup seperti api dikebas karung basah.

          “Saya mau tanya, waktu itu kamu bilang kamera ini limited edition, cuma tiga ratus unit
        diproduksi. Betul?”


          “Kamu meragukan pengetahuan Nikon-ku?”
          “Bukan gitu,” aku tertawa lagi. “Kalau kamera itu sebegitu terbatasnya, harusnya bisa,

        dong, kita melacak siapa-siapa saja pemiliknya?”
   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136