Page 133 - Supernova 4, Partikel
P. 133

“Hara, kalau ada apa-apa, bilang terus terang sama Kak Zarah,” ucapku tegas.

          Napas Hara menghela. “Ibu bakal menikah dengan Pak Ridwan. Bulan depan.”

          Waktu  dalam  benakku  berhenti.  Yang  berjalan  hanyalah  penunjuk  waktu  di  pesawat
        telepon ini.

          “Kak? Kak Zarah?” panggil Hara setelah lama tak mendengar suara.

          Kutatap hampa penunjuk rupiah di pesawat telepon yang terus bertambah. Rasanya, aku
        sudah  menduga  saat  ini  akan  tiba.  Tapi,  tetap  saja,  berita  yang  sesungguhnya

        menjadikanku kelu.

          Akhirnya,  aku  hanya  berdeham.  Sekadar  menandakan  kepada  Hara  bahwa  aku  masih
        tersambung di ujung telepon.

          “Kak Zarah bisa pulang, kan?” tanya Hara lagi.

          “Kakak lihat kondisi di sini dulu, ya,” jawabku akhirnya. Suaraku parau. “Pak Ridwan
        baik sama kamu, kan?”

          “Baik, Kak. Hara dikasih hadiah terus. Hara juga sering diajak jalan-jalan bareng Ibu.”

          “Kamu sudah pernah kenalan sama anak-anaknya?”

          “Sudah.  Satu  kali.  Masih  kecil-kecil,  Kak.  Yang  paling  besar  baru  kelas  1  SD,  yang
        bungsu masih TK. Mereka tinggal sama ibu kandungnya, di Jakarta.”

          “Ibu gimana kelihatannya? Senang?”

          “Kelihatannya, sih, gitu. Ibu sekarang lebih sering senyum,” jawab Hara, ditutup dengan

        tawa kecil.

          Semua terdengar baik-baik saja. Aku mencoba ikut tersenyum. Susah.

          “Setelah  Ibu  menikah,  kita  semua  pindah,  Kak.  Ke  rumah  Pak  Ridwan  di  Taman
        Kencana.”

          “Lho? Kenapa begitu?” sergahku spontan.

          “Rumah kita, kan, nggak punya garasi. Mobil Pak Ridwan ada tiga,” sahut Hara polos.

          Sesaat kemudian aku menyadari betapa bodohnya pertanyaanku. Ya, jelas saja, Ibu pasti
        harus  pindah.  Ikut  suami.  Suami  yang  jauh  lebih  mapan,  yang  akan  memberikan
        penghidupan yang jauh lebih baik untuk Ibu dan adikku.


          “Rumah kita? Dijual?”
          “Nggak, Kak,” jawab Hara. “Kata Ibu, suatu saat akan diwariskan ke kita.”


          Aku manggut-manggut. Baguslah. Hara tak bisa melihatku. Dia tak perlu melihat aku
        menyeka air mata yang akhirnya jatuh berlelehan tanpa bisa kutahan.

          “Kamu panggil apa sama Pak Ridwan?” tanyaku nyaris berbisik.

          “Bapak.”

          Aku manggut-manggut lagi. Air mataku menderas. Aku harus menyudahi pembicaraan
   128   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138