Page 134 - Supernova 4, Partikel
P. 134

ini.

          Di  kamar  wartel  yang  penunjuk  rupiahnya  sudah  berhenti  sejak  tadi  aku  duduk
        membelakangi  pintu.  Menyembunyikan  wajahku  yang  basah.  Berharap  tak  ada  yang
        mengganggu tangisku.

          Keluar  dari  sini,  aku  berharap  bisa  berbahagia  untuk  Ibu.  Untuk  Pak  Ridwan.  Untuk
        Hara. Untuk diriku sendiri karena keluargaku kini sudah ada yang mengayomi. Namun,

        sejenak saja di sekat kecil wartel ini, aku ingin menangis untuk Ayah. Untuk ketiadaannya.
        Untuk  rumah  mungil  kami  yang  sebentar  lagi  tak  berpenghuni.  Untuk  lembar  terakhir
        sebuah masa.

                                                                                                             15.

        Ibu Maryam ditetapkan sebagai pengasuh Sarah yang baru kelak. Dalam dua bulan masa
        transisi  yang  kupunya,  kami  mulai  pelan-pelan  bergantian  mengurus  Sarah.  Awalnya
        beberapa  jam.  Beranjak  menjadi  setengah  hari.  Makin  lama  makin  lebar.  Aku  hanya
        menemani Sarah menjelang tidur.


          Kenyataannya,  Sarah  menghadapi  adaptasi  ini  dengan  baik.  Bahkan  lebih  baik
        daripadaku.

          Jika ada Ibu Maryam dan aku berbarengan, Sarah masih lebih memilih bersamaku. Tapi,
        ia  juga  tidak  menunjukkan  keberatan  jika  aku  meninggalkannya  dengan  Ibu  Maryam.
        Kalau aku berjalan pergi, Sarah hanya bersuara sebentar, tapi tidak lantas mengejar.

          Setiap malam aku terhanyut oleh nostalgiaku dan Sarah. Tiga tahun tidur berdampingan
        —diompoli, dinomploki, dijambak, dipeluk—kini susah kubayangkan tidur tanpanya.

          Setiap  malam,  ketika  Sarah  terlelap,  aku  membisikkan  pesan-pesan.  Aku  tak  peduli

        apakah ia memahami atau tidak, aku yakin ia bisa merasakan. Kubisikkan harap agar ia
        tak  lupa  kepadaku,  agar  ia  tumbuh  besar  dan  sehat,  agar  ia  mendapatkan  jantan  yang
        gagah  dan  mampu  melindunginya,  agar  ia  punya  keturunan  yang  banyak,  agar  ia  dan
        anak-anaknya selamat dari tangan manusia jahat, agar ia dan garis keturunannya menjadi
        orangutan yang berhasil bertahan di rumahnya sendiri.

          Dua  minggu  terakhir  sebelum  keberangkatanku,  Sarah  mulai  selang-seling  ditemani
        tidur oleh Ibu Maryam. Kadang ia dicoba tidur mandiri di kandang, bersama orangutan

        lain. Hanya sesekali ia protes keras, sisanya Sarah bisa kooperatif.

          Pada malam-malam aku tak tidur dengannya, sarung bantalku kerap berjejak air mata.
        Aku rindu hangatnya. Aku rindu bulu-bulunya yang menggelitik kulit. Aku membolak-
        balik badan gelisah karena sudah lupa rasanya tidur sendiri.

          Pada malam-malam berharga saat aku masih bisa tidur dengannya, sarung bantalku tetap
        berjejak air mata. Kuelus-elus puncak kepalanya yang jabrik sembari membatin, Inikah
        perasaan orangtua yang harus berpisah dengan anaknya? Beginikah dulu perasaan Ayah
        ketika ia meninggalkan rumah? Beginikah perasaan Ibu ketika aku keluar dari rumah?

        Sesaat kemudian, terngiang pesan Ibu Inga untuk tidak membebani Sarah dengan sampah
        pribadiku.  Akhirnya,  kumengerti  betapa  rumitnya  konstruksi  batin  manusia.  Betapa
        sukarnya manusia menanggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang.
   129   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139