Page 135 - Supernova 4, Partikel
P. 135

Aku kini percaya, manusia dirancang untuk terluka.




        Hari  itu  tiba.  Saat  aku  harus  menyusuri  250  meter  jembatan  kayu  menuju  kelotok  dan
        tidak kembali.

          Telah kuucapkan perpisahan kepada segenap staf dan para ranger. Kami berpuas-puas
        tertawa, berpelukan, bertangis-tangisan. Mereka janji mengirimkan foto Sarah saat dewasa

        nanti agar aku bisa tahu seperti apa tampang Sarah sebelum ia lepas ke hutan dan juga
        mungkin tak kembali.

          Drama  perpisahan  antara  ibu  asuh  dan  anak  orangutan  adopsinya  terkenal  sebagai
        peristiwa  dramatis  yang  berkali-kali  terjadi  di  kamp.  Meski  punya  pilihan  untuk
        mengandangkan  Sarah  sementara  aku  pergi,  tak  kuambil  pilihan  itu.  Aku  ingin  Sarah
        melihat  langsung  keberangkatanku.  Aku  ingin  dia  ada  di  ujung  jembatan  itu  saat  aku

        melangkah menuju ujung jembatan satunya. Aku ingin Sarah ingat, ibunya pergi dengan
        pamit.

          Digamit oleh Ibu Maryam, Sarah duduk di jembatan. Ibu Inga dan para staf berdiri di
        belakangnya. Aku berlutut mendekap Sarah, anak orangutan berusia empat tahun, yang
        telah mengubah hidupku dan memberiku rumah selama tiga tahun terakhir.

          Kubisikkan pesan terakhirku di kupingnya, “Chomo-chomo.”

          Itulah  250  meter  terpanjang  dalam  hidupku.  Aku  berjalan  di  atas  jembatan  kayu  itu
        dengan jantung berdebar-debar, mengantisipasi setiap saat Sarah akan berteriak, berlari,

        melompat, dan menahanku pergi. Sampai kelotokku bergerak meninggalkan kamp, Sarah
        tetap diam di tempat.

          Perpisahanku dan Sarah dikenang sebagai perpisahan paling elegan yang pernah terjadi
        di Tanjung Puting.









                                                         Bogor

        Selesai  mengurus  surat-surat  untuk  keberangkatanku  di  Jakarta,  aku  pergi  ke  stasiun.
        Membeli tiket KRL ke Bogor.

          Tiga tahun dalam perut hutan Kalimantan, kota seperti Jakarta membuatku gegar. Ada

        saat-saat aku harus duduk, berhenti, memejamkan mata karena lalu-lalang begitu banyak
        manusia membuatku sakit kepala. Dan, besok aku akan menghadapi tantangan yang lebih
        besar lagi. Kota besar yang sama sekali asing. London.

          Akan tetapi, perjalananku ke Bogor kali ini bahkan sampai mengaduk-aduk perut. Aku
        duduk  meringkuk  seperti  orang  kena  angin  duduk.  Terbetot-betot  aneka  perasaan  yang
        kontras. Aku rindu luar biasa kepada Hara, dan meski tercampur rasa kecut serta gentar,
        aku pun rindu kepada Ibu. Aku cuma tak yakin siap menghadapi kehidupan baru mereka
   130   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140