Page 136 - Supernova 4, Partikel
P. 136

di  Bogor.  Rumah  asing  yang  akan  kujumpai.  Pria  asing  yang  dipanggil  Hara  dengan
        julukan “Bapak”.

          Berbekal alamat yang diberikan Hara, aku tiba di rumah itu. Rumah besar di daerah elite
        Kota Bogor. Garasi berkapasitas empat mobil, pilar-pilar besar menopang bangunan dua
        lantai,  taman  luas  dengan  cemara  udang  berlompok  yang  dibentuk  bulat-bulat.  Aku
        memandangi  pagar  tinggi  itu,  menelan  ludah  getirku  sambil  merogohkan  tangan  ke

        bolongan yang disediakan untuk memencet bel.

          Tak lama, seorang pembantu tergopoh membuka pagar. Sebelum pagar itu benar-benar
        terbuka, pintu besar di teras depan sudah terbuka duluan. Hara menghambur keluar.

          “Kakaaak!” jeritnya.

          Rasanya ingin kuledakkan tangis haru. Dia bukan lagi Hara-ku yang mungil. Hara-ku
        sekarang adalah gadis remaja 14 tahun. Rambutnya yang dulu dikepang dua kini dipotong
        sebahu, tungkai kakinya yang jenjang berlari menghampiriku.

          Aku  mendekapnya  erat-erat  sampai  kakinya  tak  menjejak  tanah.  “Kak  Zarah  kangen

        sekali sama kamu,” bisikku.

          “Kak Zarah tinggal terus di sini, kan? Nggak ke Kalimantan lagi?” Matanya berbinar.
        Berharap.

          Cepat-cepat, aku mendekapnya lagi. Dan, kulihatlah Ibu. Berdiri di teras.

          Ibu tak berubah sedikit pun, seolah waktu tak menyentuhnya. Dengan senyum samar bak
        Monalisa yang menjadi ciri khasnya Ibu berdiri anggun. Kedua tangan terpaut di depan.

          Menghadapi posisi demikian, kita tak mungkin berlari dan menggabruk. Kita hanya bisa
        berjalan dengan langkah terkendali, mencium tangan dengan sopan. Dengan hanya berdiri
        Ibu mampu membuat efek begitu.


          Aku berjalan menghampirinya. Wajahnya yang ayu tak menampakkan gejolak melihat
        putri  sulungnya  datang  dengan  kulit  menghitam  yang  jika  diamati  saksama  akan
        memperlihatkan bekas luka dan baret di mana-mana, rambut dikucir satu dengan belitan
        karet gelang, menenteng ransel yang sama dengan ketika meninggalkan rumah dulu.

          “Assalamualaikum, Bu,” aku mencium punggung tangannya.

          “Waalaikumsalam.  Sehat  kamu,  Zarah?”  Ibu  mendekapku  sesaat.  Detik  itu  aku  pun
        terempas  ke  dalam  déjà  vu.  Teringat  saat-saat  Ayah  tak  bisa  menghindari  Abah  dan
        bagaimana keduanya bersua dengan rasa terpaksa, melontarkan basa-basi pendek seputar

        topik “sehat”, terlepas keduanya betulan sehat atau sakit. Sudah sebegitu sempurnakah aku
        menjadi Firas berikutnya?

          “Sehat, Bu.”

          “Kang Ridwan masih di kantor. Baru sore pulang. Kamu nginap di sini, kan?”

          Aku ingin sekali bilang, aku ingin ke rumah kami yang dulu. Namun, dengan berat aku
        mengangguk. Semalam bersama Hara lebih berharga dari apa pun.
   131   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141