Page 137 - Supernova 4, Partikel
P. 137

“Makan siang sudah siap. Ayo, masuk.” Sigap, Ibu melepaskan ransel dari bahuku, dan
        dengan sekali lambaian tangannya seorang pembantu langsung menyambar ransel itu.

          Di ruang tamu aku langsung dihadapkan dengan pigura besar berisi foto Ibu dan Pak
        Ridwan dalam baju pengantin. Nyaris tak kukenali ibuku sendiri. Berbalut gaun pengantin
        muslim yang berkerudung, aksesori gemerlap, dan riasan yang tebal, ibuku tampak seperti
        artis  berfoto  untuk  sampul  majalah.  Pak  Ridwan,  yang  selama  ini  hanya  samar-samar

        kuingat wajahnya, tersenyum gagah dalam beskap putih. Tangannya merangkul Ibu, dan
        Ibu  tampak  mencondongkan  tubuhnya  ke  belakang,  bersandar  pada  bahu  Pak  Ridwan
        yang bidang.

          Memasuki ruang tengah, aku disambut lagi oleh foto keluarga yang sama besarnya. Foto
        yang diambil di pelaminan. Ada Abah di sana, ada Umi, ada Hara, bersama orang-orang
        serta anak-anak lain yang tak kukenal.

          “Kita sudah siapkan kamar untukmu, Zarah.” Suara Ibu memecahkan ketertegunanku.

          “Kalau boleh, Zarah mau tidur dengan Hara saja, Bu.”


          “Asyik!”  Hara  melonjak  girang.  “Boleh,  Kak.  Kamarku  besaaar…  banget!  Tempat
        tidurnya bisa muat tiga orang!”

          Ibu  tersenyum,  “Nanti  kalau  sudah  puas  kangen-kangenan,  kamu  bisa  punya  kamar
        sendiri, kok. Ada banyak kamar di sini.”

          Aku hanya mengangguk sopan.

          “Yuk, kita makan dulu,” ajak Ibu. Di meja makan bundar itu, tersedia sedikitnya enam
        macam lauk, cukup untuk makan sepuluh orang. Dan, baru saja pantatku menyentuh kursi,
        ada piring baru lagi yang diantar ke meja. Isinya potongan-potongan kue lapis. Cokelat

        dan pandan.

          “Kak Zarah jadi berotot sekarang, kayak atlet,” komentar Hara.

          “Tambah hitam lagi,” celetuk Ibu.

          “Tapi, tambah cantik, kok,” Hara terkikik.

          “Di sana Kakak sering manjat pohon, ketularan orangutan,” aku cengengesan.

          “Pantas jadi mirip,” Ibu menimpali.

          Hara  terpingkal.  “Foto  Sarah  aku  pamer  ke  teman-teman,  lho,  Kak.  Mereka  semua
        bilang, Kak Zarah hebat. Bisa jadi ibu asuh orangutan.”

          “Sampai lupa sama orang betulan,” celetuk Ibu lagi.

          Denting sendok dan garpu mengiringi berondongan pertanyaan Hara yang bersemangat.
        Celetukan  bernuansa  serupa  sesekali  dilontarkan  Ibu.  Sindiran-sindiran  serius  yang
        diucapkan dengan santai.


          Kutelan  semuanya  dengan  ikhlas.  Makan  siang  nan  lezat  ini  merupakan  kompensasi
        yang setimpal.

                                                                                                               2.
   132   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142