Page 138 - Supernova 4, Partikel
P. 138

Rumah besar itu memiliki enam kamar tidur. Yang terisi tentunya hanya dua, untuk Ibu
        dan Hara. Sisanya menjadi kamar-kamar kosong berseprai rapi macam hotel. Kamar Hara
        ada di lantai atas. Ia bersemangat sekali menunjukkannya kepadaku.

          Kunaiki tangga melingkar berlapis marmer itu. Dingin dan asing.

          “Ini kamarku, Kak,” Hara membuka pintu. Terhamparlah kamar luas serba pink. Ada
        meja belajar, komputer, televisi kecil. Dan, seperti biasa, boneka-boneka berbaris rapi di

        tempat tidur. Ciri khas Hara sejak dulu. Bedanya, dulu boneka-boneka di tempat tidurnya
        murahan dan kumal. Bonekanya kini besar-besar seperti replika binatang asli, yang dari
        bentuknya kelihatan bukan dibeli di pasar pagi.

          “Bagus sekali kamarmu,” pujiku tulus. “Kamu betah di sini ya, Hara?”

          “Betah banget, Kak. Dari dulu Hara sering berkhayal punya kamar kayak begini, tinggal
        di rumah kayak istana, eh, tahu-tahu jadi kenyataan,” tuturnya berseri-seri. “Nanti, kalau
        Kak Zarah pindah ke sini, pilih kamar yang di sebelahku persis ini, ya. Jadi kita dekatan.”

          Beban  berat  yang  sedari  tadi  menggantungiku  harus  kutanggalkan.  “Hara,  Kak  Zarah

        mau bicara sebentar,” aku mendudukkannya di tempat tidur. Lebih cepat lebih baik.

          “Kakak nggak bisa pindah ke sini,” ucapku.

          Air muka Hara langsung memuram. “Kakak masih marah sama Ibu, ya? Kakak nggak
        suka sama Bapak? Kakak mau tinggal di rumah Ayah?”

          Kepalaku  langsung  menggeleng,  “Bukan  gara-gara  itu  semua.  Kakak  dapat  tawaran
        pekerjaan. Nggak di sini,” aku menelan ludah, “jauh.”

          “Di mana?”

          “Di Inggris. Di London.”

          “Dan, Kakak ambil tawarannya?”

          Aku mengangguk. Berat.

          “Berapa lama Kakak nanti di London?”

          “Nggak tahu.”

          “Kapan Kak Zarah berangkat?”


          “Besok.”

          Hara tertegun. “Jadi, Kakak mampir ke sini cuma untuk pamit?”

          Aku mengangguk lagi. Lebih berat.

          Kulihat adikku berjuang menahan tangis. Dengan suara gemetar ia berkata, “Ibu bilang,
        Kakak lebih sayang sama monyet daripada sama kita.”

          “Itu nggak benar,” kataku cepat.

          “Memang. Hara bilang sama Ibu, orangutan itu kera. Bukan monyet.”

          Senyumku membersit bercampur dengan air mata yang mulai mengembang.
   133   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143