Page 139 - Supernova 4, Partikel
P. 139

“Hara nggak suka lihat Kakak dan Ibu ribut terus. Hara sayang Kakak, Hara sayang Ibu
        juga.  Kalau  Kakak  memang  harus  pergi  jauh,  Hara  nggak  keberatan.  Hara  tahu  Kakak
        sayang sama kita semua. Tapi, Hara pengin sekali suatu saat Kakak dan Ibu rukun lagi.
        Kalau bukan sekarang waktunya, Hara ikhlas. Hara selalu doakan Kakak dan Ibu.”

          Aku  memeluknya  erat.  “Kakak  janji,  suatu  saat  Kakak  nggak  akan  pergi  jauh  lagi.
        Kakak akan temani Hara terus.”


          “Kak Zarah bakal baikan lagi sama Ibu, kan? Sama Abah? Sama Umi?”

          Jujur, aku tak yakin. Namun, tak urung aku mengangguk.

          Hara  melonggarkan  pelukannya,  menatapku  lurus,  “Kak,  memangnya,  Ayah  masih
        hidup?”

          Tak  kusangka  akan  mendapat  pertanyaan  itu.  Pertanyaan  Hara  sekaligus
        menyadarkanku, selama ini tak pernah aku berpikir kemungkinan itu sama sekali. Bagiku,
        meski tak kelihatan wujudnya, Ayah teramat hidup.

          “Kalau Ayah masih hidup, kenapa sampai sekarang Ayah nggak menengok kita sama
        sekali?” desaknya lagi.


          “Kakak nggak tahu, Hara. Mati atau hidup, Kakak akan cari Ayah terus,” tegasku.
          “Bagaimana kalau ternyata Ayah nggak mau dicari?”


          Aku  tercekat  untuk  kali  kedua.  Kemungkinan  itu  pun  belum  pernah  terlintas
        sebelumnya.

          “Kakak cuma pengin tahu kenapa. Kenapa dulu Ayah pergi. Soal ketemu atau nggak,
        gimana nanti.”

          Hara berusaha tersenyum sambil mengerjapkan matanya yang berkaca-kaca, “Hara juga
        pengin tahu, Kak. Tapi, Hara nggak seberani Kakak. Biar Hara yang di rumah jaga Ibu.”

          Sebuah peta tergambar jelas kini. Ada semacam pembagian tugas tak terucap di antara

        kami,  yang  barangkali  sudah  digariskan  di  level  takdir.  Aku  menjadi  si  Pencari.  Hara
        menjadi si Penjaga.

          Karena  itulah,  adikku  begitu  tabah  menghadapi  tempaan  demi  tempaan  yang
        menerjangnya dari usia muda. Dengan bijak dan dewasa ia melepas kepergian kakak satu-
        satunya, berkali-kali. Dan, karena itu jugalah, aku diberi kekuatan entah dari mana untuk
        terus  berjalan.  Menghadapi  berbagai  macam  situasi  asing,  orang-orang  baru,  dan
        ketidakpastian.

          Aku dan Hara, terlepas dari jarak yang selalu membentang di antara kami, tak pernah
        lepas untuk saling menjaga dan berjaga. Di tempat yang berbeda.


                                                                                                               3.

        Sekitar  pukul  enam  sore,  terdengar  bunyi  klakson  dua  kali,  dan  sebuah  kesibukan  pun
        dimulai. Pembantu berlari membuka pagar. Ibu beres-beres di meja makan, menyiapkan
        secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng yang masih hangat. Aku dan Hara diminta
   134   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144