Page 140 - Supernova 4, Partikel
P. 140

stand-by  di  ruang  tengah.  Sekilas  Ibu  membereskan  dandanannya  di  cermin,  kemudian
        berdiri siaga, seperti pagar ayu yang akan menyambut tamu besar.

          Pintu  pun  membuka.  Suara  hak  sepatu  kulit  beradu  dengan  lantai.  Ibu  memelesat  ke
        ruang tamu, menyambut.

          Pak  Ridwan  berdiri  gagah  dengan  baju  kantoran  lengkap.  Tas  kulit  hitam  yang
        ditentengnya langsung disambar oleh Ibu, dibawakan. Ibu mencium punggung tangannya

        dengan takzim. Dibalas oleh ciuman Pak Ridwan di kening.

          Tak lama, Hara mengikuti.

          “Ada Zarah,” gumam Ibu kepada Pak Ridwan.

          Senyum  Pak  Ridwan  langsung  mengembang,  “Zarah?  Apa  kabar  kamu?”  Ia
        menyalamiku. Aku satu-satunya yang tidak ikut mencium tangannya.

          “Baik, Pak,” ucapku kaku.

          “Kamar untuk Zarah sudah disiapkan?” tanyanya kepada Ibu.

          “Sudah, semua sudah beres,” jawab Ibu cepat.

          “Bapak senang akhirnya kita semua bisa berkumpul,” katanya lagi.

          Aku  mencoba  tersenyum.  Kali  kedua  aku  berjumpa  dengannya.  Ada  kesan  yang
        berbeda. Ada sikap yang berkuasa. Dulu, aku mengingatnya sebagai pria yang pendiam,
        yang  memandang  aku  dan  Hara  dengan  segan.  Mungkin,  karena  waktu  itu  dialah

        pendatang.  Mendekati  Ibu  dan  dengan  hati-hati  berusaha  mendekati  kami.  Kini,  aku
        menjadi pendatang di tempatnya. Ibu dan Hara sudah ia miliki. Aku adalah orang terakhir
        yang harus menyesuaikan diri.

          “Zarah, kita belum terlalu saling kenal. Tapi, ingat, ini rumahmu. Jadi, jangan sungkan-
        sungkan, ya?” katanya. “Kita semua sudah keluarga. Kalau ada apa-apa, kita bisa terbuka.
        Aku sekarang bapakmu.”


          Kembali aku berusaha tersenyum.
          Pukul setengah delapan, kami berkumpul lagi di meja untuk santap malam.


          “Gimana  sekolah  hari  ini,  Hara?”  tanya  Pak  Ridwan  sambil  menunggu  piringnya
        disiapkan oleh Ibu, diisikan nasi dan dipilihkan lauk-pauk.

          “Baik, Pak. Besok Hara ada ulangan Bahasa Inggris.”

          “Pas, dong!” Pak Ridwan berseru. “Pas sedang ada guru Bahasa Inggris di sini.”

          Kami tertawa sopan karena tahu yang dimaksud adalah aku. Mungkin Pak Ridwan lupa,
        terakhir aku mengajar sudah tiga tahun lebih yang lalu.

          “Kamu nggak berminat mengajar lagi, Zarah?” tanya Pak Ridwan.

          “Belum, Pak,” jawabku pendek.

          “Lebih ingin fokus di fotografi?”
   135   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145