Page 141 - Supernova 4, Partikel
P. 141

“Sekarang ini, iya.”

          “Nggak mau sekolah lagi?”

          “Nggak, Pak.”

          “Mungkin  Bapak  bisa  carikan  tempat  untuk  kamu  bikin  studio  kecil-kecilan  di
        Bogor….”

          “Saya nggak akan menetap di sini.” Aku tak tahan lagi.

          Sendokan nasi Ibu berhenti. Tajam, ia mendelik.

          “Waktu di Tanjung Puting, saya dapat tawaran pekerjaan ke Inggris. Jadi, sebetulnya,

        saya pulang kemari untuk pamit. Saya mau berangkat ke London.”
          “London?” Pak Ridwan membelalak. Punggungnya langsung menegak. “Kapan?”


          “Pesawat saya berangkat besok sore, Pak. Tapi, saya sudah harus ke Jakarta dari pagi,
        untuk persiapan.”

          Pak Ridwan melongo. “Oh, begitu?” ia lalu melirik Ibu. “Aisyah, kamu sudah tahu?”

          Di luar dugaan, Ibu menjawab pendek, “Sudah.”

          “Hara?”

          “Sudah, Pak. Tadi siang Kak Zarah cerita sama Hara.”

          “Wah, berarti Bapak yang ketinggalan berita,” katanya. “Selamat ya, Zarah.”

          “Makasih, Pak,” gumamku.

          Makan malam berlangsung dengan mulus dan wajar. Pak Ridwan menanyakan banyak
        hal tentang Tanjung Puting, pekerjaanku di sana, dan kujawab semuanya dengan sopan.

          Setelah  semua  obrolan  usai,  Ibu  pun  permisi  pergi,  “Ibu  duluan  ke  kamar,  ya.  Agak
        capek.”


          Pak  Ridwan  ikut  berdiri,  mengantar  Ibu  ke  kamar  sambil  merangkul  bahunya  mesra.
        Mataku lekat mengikuti bayangan keduanya masuk ke kamar hingga pintu itu menutup.
        Tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku, Ibu akan dipeluk pria lain, masuk ke kamar
        tidur.

          Cepat-cepat, kutenggak air putih. Dia suaminya, dia suaminya, aku mengingatkan diriku
        sendiri. Berkali-kali.

          “Kakak temani kamu belajar, yuk,” ajakku kepada Hara. Aku ingin segera menyingkir
        dari sini. Menepis rekaman gambar tadi.





        Pagi-pagi sekali Pak Ridwan berangkat bersama Hara. Meninggalkan aku dan Ibu, dan
        sebuah taksi yang dipesan untuk mengantarku ke Jakarta.

          Rumah besar ini menjadi lebih sunyi dan mencekam.
   136   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146