Page 142 - Supernova 4, Partikel
P. 142

Aku  turun  membawa  barang-barangku.  Setengah  jalan  di  tangga,  seorang  pembantu
        sudah menghambur dan mengambilnya dari tanganku. Sekejap, ia lenyap lagi ke pintu ke
        belakang.

          Kulihat Ibu duduk di kursi makan. Menatap hampa.

          Salah tingkah, akhirnya aku menarik kursi di hadapannya. Ikut duduk.

          “Maaf, Bu. Kemarin Zarah belum bilang langsung—”

          “Kamu memang nggak akan pernah mau tinggal di sini. Iya, kan?”

          “Bukan itu, Bu. Zarah dapat tawaran pekerjaan ini sejak dari Kalimantan—”


          “Berarti  kamu  memang  nggak  punya  niat  pulang  sama  sekali  ke  keluargamu?”
        potongnya sengit.

          Aku tak bisa menjawab.

          “Jujur saja. Kamu menghindari Ibu, kan? Kamu marah sama Ibu? Gara-gara Ibu memilih
        Kang Ridwan?”

          Aku menggeleng. “Zarah nggak tinggal di Bogor bukan karena Zarah menghindari Ibu
        atau Pak Ridwan. Zarah menghargai keputusan Ibu. Dan, Zarah tahu Pak Ridwan orang
        baik,” aku berhenti sejenak, sesuatu terasa membubung di dada, mendesak keluar lewat

        mulutku. “Tapi, Zarah harus pergi karena….”
          “Ayahmu.”


          Aku mengangguk, “Zarah masih mau cari Ayah,” ucapku bergetar.

          “Ke mana?” tantang Ibu. “Ke Inggris? Dia ada di sana?”

          Lagi-lagi, aku tak punya jawaban.

          “Mau sampai kapan, Zarah? Ke mana lagi kamu mau cari dia?” Ibu menatapku seperti
        orang kelelahan. Antara gemas dan putus asa.

          “Ke mana pun, Bu. Kalau bukan di sini, barangkali Zarah bakal menemukan cara yang
        lebih baik untuk mencari Ayah. Di mana pun Zarah nanti. Zarah nggak akan berhenti.”

          Kulihat air mata mulai mengambang di matanya. “Apa yang belum Ibu lakukan untuk
        mencari ayahmu? Apa yang masih kurang?” ucapnya setengah berbisik.

          “Zarah  tahu  semua  upaya  Ibu.  Zarah  nggak  pernah  merasa  Ibu  kurang  berusaha,”

        jawabku pelan. “Ini cuma ikhtiar Zarah.”

          “Siapa pun tidak pernah bisa menandingi Firas di hatimu,” Ibu mengusap air matanya,
        “tidak akan ada yang bisa.”

          Aku  ingin  menyangkal,  mengatakan  bahwa  dugaannya  itu  salah.  Namun,  aku  tak
        sanggup. Mulutku bungkam. Mungkin karena aku memang sedang tidak ingin berbohong.

          “Ibu capek, Zarah. Ibu capek bersaing dengan ayahmu. Sampai kapan kita terus begini?
        Kapan kamu bisa memaafkan Ibu?” ratapnya.
   137   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147