Page 143 - Supernova 4, Partikel
P. 143

Tidakkah  ia  tahu?  Di  dalam  hatiku,  aku  selalu  mengajukan  pertanyaan  yang  sama.
        Kapan Ibu mau memaafkan aku? Memaafkan perbedaan kami?

          “Zarah nggak menyalahkan Ibu,” kataku akhirnya.

          Ibu diam. Hanya bolak-balik mengusap air matanya.

          “Salam untuk Abah dan Umi, Bu. Zarah pamit.” Aku menghampiri ibuku, mengambil
        punggung  tangannya  untuk  kusentuhkan  pada  kening.  Tahu-tahu,  tanganku  dibetot
        kencang. Ibu memelukku, menangis tersedu-sedu.


          Betapa aku ingin menangis bersamanya. Betapa aku ingin menghiburnya dengan kata-
        kata manis dan segala ungkapan sayang. Tak ada yang keluar. Tidak air mata, tidak juga
        kata-kata.  Hatiku  pedih  ketika  sadar  ucapan  Ibu  ternyata  benar.  Akulah  yang  belum
        memaafkannya.

          Tak ada yang lebih menyakitkan daripada kepedihan yang tak ditangiskan.





                                                   1 9 9 9 – 2 0 0 1


                                                        London





        Aku  mendarat  di  Bandara  Heathrow  pagi  hari  pada  Oktober.  Dataran  Inggris  sudah
        memasuki awal musim dingin. Yang tidak kuantisipasi adalah seberapa dingin dan sekuat
        apa tubuhku menahan dingin.

          Aku terkesiap ketika pintu geser otomatis di dekatku membuka dan embusan angin beku
        menerpa wajah. Saking dinginnya hingga terasa perih di kulit dan aku merasa baru ditiup
        angin neraka. Ternyata, dingin yang ekstrem dan panas yang ekstrem akan bertemu di satu
        titik siksa.


          Kulihat lagi baju yang kukenakan: sehelai jaket kain, kemeja, celana jins, dan seutas syal
        wol. Kupikir semua itu cukup untuk menghadapi dingin London. Aku salah besar.

          Paul  berbaik  hati  menjemputku  ke  bandara.  Barangkali  ia  menaruh  iba  kepada
        perempuan hutan yang datang seorang diri, perdana menginjakkan kaki ke luar negeri.

          Dengan mudah kutemukan Paul di antara para penjemput di terminal. Hatiku langsung
        lega luar biasa.

          “Good to see you again. Welcome to London,” sapanya. Di sampingnya, ada seorang
        pria  berambut  kemerahan,  gondrong  sampai  garis  bahu,  tingginya  lebih  kurang  sama

        denganku.  Matanya  bundar  dan  berbinar,  wajahnya  bersahabat.  Ia  langsung  tersenyum
        ramah kepadaku.

          “This is my partner in crime, Zach,” Paul mengenalkan temannya.

          Zach menjabat tanganku, “Welcome to the family, Zarah.” Suaranya ringan, ceria. Aku
        langsung menyukainya. Zach seperti tambahan matahari bagi London yang kelabu.
   138   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148