Page 144 - Supernova 4, Partikel
P. 144

Belakangan aku tahu bahwa Zach adalah tangan kanan The A-Team. Dia sahabat lama
        sekaligus fotografer pertama yang direkrut Paul. Saking akrabnya dua sahabat itu, lelucon
        yang beredar adalah kalau saja salah seorang dari mereka perempuan, Zach dan Paul pasti
        sudah menikah.

          Begitu kami melangkah keluar terminal, eksistensiku menciut. Dingin yang kejam ini
        terasa  mencabut  setengah  nyawa.  Sepanjang  perjalanan  dari  terminal  menuju  tempat

        parkir, badanku tegang menahan dingin. Setengah mati aku berjalan tegak, pura-pura kuat.

          Di jok belakang mobil station wagon Zach, langsung aku meledak menggigil. Gigiku
        gemeletukan. Tanpa bisa kukendalikan. Sementara Zach dan Paul santai-santai saja di jok
        depan, di jok belakang itu aku seperti kena gempa bumi lokal.

          “Kita langsung pulang?” tanya Zach sembari memasang sabuk pengamannya.

          “Nggak. Kita harus cari toko dulu dan membelikan Zarah baju hangat yang layak. Anak
        hutan tropis ini sebentar lagi jadi es batu.”

          Zach tergelak melihatku. Ia melepas lagi sabuk pengamannya, bangkit meraih selimut

        dari bagasi, lalu melemparnya ke pangkuanku. “Nih. Untuk kamu bertahan hidup sampai
        kita ketemu toko baju.”

          Aku  sudah  tak  bisa  berkata-kata.  Kalap,  kubungkus  tubuhku  dengan  selimut  itu.
        Meringkuk bagai bola. Cuma suara gemeletuk gigi yang terdengar.

          Jalanan dari bandara hingga pusat London ini supermulus. Tapi, di jok belakang mobil
        Zach ada gundukan selimut yang tampak terguncang-guncang.




        Zach tinggal di sebuah rumah teras di daerah Clapham. Bangunan gaya Victoria yang di

        dalamnya sudah dirombak total, bergaya minimalis dengan furnitur-furnitur modern yang
        diterangi lampu-lampu LED. Rumah yang terdiri atas dua kamar dan satu basement itu
        memiliki luas total yang cukup lega. Ruang tengahnya yang tanpa sekat dibagi menjadi
        tiga  area:  ruang  makan,  ruang  televisi,  dan  ruang  kerja.  Yang  terakhirlah  yang
        mendominasi.  Memakan  hampir  tiga  perempat  ruang.  Tampak  meja  besar  bertaburan

        laptop, mesin scan, faks, dan berbagai alat elektronik lain yang tak kukenal. Di sebelahnya
        ada meja khusus untuk komputer  desktop. Di dinding terpasang white board sepanjang
        satu setengah meter, bersebelahan dengan pin board. Kedua papan itu penuh oleh tulisan,
        sketsa, kertas, foto. Sisa ruang yang ada dipecah untuk meja makan bundar berkursi empat
        dan sebuah televisi dengan satu sofa.

          Rumah Zach ternyata merangkap menjadi markas besar The A-Team. Ia house sharing
        dengan  kantor  Paul.  Itu  menjelaskan  porsi  ruang  kerja  yang  menjajah  rumahnya.

        Berhubung semua anggota A-Team lebih banyak bepergian, rumah itu sangat pas menjadi
        markas multifungsi. Salah satunya, tempat untukku menumpang.

          Kamar  untukku  menginap  berukuran  mungil.  Di  kamar  berkarpet  itu,  cuma  ada  satu
        tempat tidur single, lemari pendek, cermin, satu unit pemanas. Sudah. Bagiku, itu semua
        lebih dari cukup. Baru beberapa jam aku tiba di London, tapi aku langsung kerasan di
   139   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149