Page 145 - Supernova 4, Partikel
P. 145

tempat Zach. Awal yang baik, pikirku.

          “Coffee? Tea? Orange juice? Hot chocolate?” Zach menawarkan.

          “Oh, biar saya bikin sendiri. Nggak usah repot-repot. Tunjukkan saja tempatnya,” aku
        cepat-cepat bangkit.

          “Zarah…,” Paul menyambar, “biarkan dia yang bikin. Just relax.” Nada itu terdengar
        seperti komando.

          “Oke,” gumamku sambil duduk lagi.

          “Coffee? Tea? Orange juice? Hot chocolate?” Zach mengulang.


          Wedang jahe harusnya jadi pilihan ideal. Tapi, akhirnya kupilih segelas cokelat panas.
          Zach menghilang  di  dapur—sebuah  bilik  kecil  yang  terpisah  oleh  pintu  koboi.  Kami

        cuma menangkap setengah bayangannya yang sibuk di dalam sana. Terdengar bunyi desis
        minyak  beradu  dengan  pinggan  panas,  wangi  telur  merebak,  denting  cangkir,  bunyi  air
        dituang, bercampur dengan senandung Zach.

          “Nobody  interrupts  Zachary  Nolan  when  he’s  making  breakfast.  Okay?”  kata  Paul
        dengan suara rendah. “It’s his obsession.” Lalu Paul memutar telunjuk di pelipisnya.

          Aku tertawa geli. “Saya baru tahu ada orang terobsesi bikin sarapan.”

          “Zach itu punya cita-cita terpendam jadi chef. Sayangnya, saat ini skill fotonya masih
        lebih bagus. So, dia terpaksa jadi fotografer,” Paul terkekeh.


          Dua  puluh  menit  kemudian,  Zach  keluar  dari  dapur  membawa  tiga  piring  berisi  telur
        acak, roti gandum bakar, tiga mangkuk sup labu, dan tiga cangkir minuman panas yang
        beda-beda. Teh untuknya, kopi decaf untuk Paul, dan cokelat panas untukku.

          “Jadi, kapan assignment pertama saya?” tanyaku sambil menyantap sarapan buatan Zach
        dengan lahap.

          Paul  langsung  meletakkan  cangkirnya.  “Take  it  easy,  will  you?  Kami  nggak  sekejam
        itu!”

          “Oh. Jadi, saya nggak langsung kerja?”

          Zach tergelak, “Sebenarnya, kami sekejam itu. Kami pengin kamu mati beku dulu di

        Inggris sebelum mengirimmu ke Afrika.”

          Mulutku  makin  menganga.  “Afrika?  Saya  akan  ke  Afrika?”  Detik  itu  juga  aku  ingin
        jungkir balik saking senangnya.

          “Zach, don’t be so mean,” tegur Paul dengan muka jail. “Zarah, sebelum kami kirim
        kamu ke mana pun di pelosok bumi ini, banyak sekali yang harus kamu pelajari. Kamu
        harus ikut training dulu.”

          “Training apa?”

          “Kamu  harus  belajar  pakai  kamera  digital.  Kamu  harus  belajar  editing  foto,

        postproduction… kapan kamu terakhir pakai komputer?”
   140   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150