Page 146 - Supernova 4, Partikel
P. 146

Sungguh, aku tak ingat.

          Dari tampangku, Paul sepertinya sudah bisa menyimpulkan. “Zach, we have a bloody
        talented photographer here. But you have to drag her out from the dark cave.”

          “Aye, aye, Captain,” sahut Zach.

          “Dengar,  Zarah.  Saat  saya  mengirim  kamu,  tugasmu  nanti  seringnya  bukan  cuma
        memotret. Mereka bisa kasih job desc macam-macam untuk kamu kerjakan. Di waktu-
        waktu berharga yang kamu punya untuk memotret, kamu harus sangat efisien dan efektif.

        Kalau tidak dibantu teknologi digital, kamu nggak bakalan bertahan. Belum tentu kamu
        punya waktu untuk cuci film, cetak foto, risiko film terbakar, jepretan yang gagal, dan
        seterusnya. Semua yang kamu shoot harus sesegera mungkin kamu cek hasilnya supaya
        kamu bisa langsung tahu apakah fotomu sudah cukup atau masih kurang. Itu baru soal
        teknis foto. Belum lagi kondisi di lapangan. Kamu harus tahu banyak taktik, tip, strategi
        untuk  menghadapi  macam-macam  orang  dan  macam-macam  alam.  Jadi,  bergantung

        kecepatanmu belajar, you may easily spend your first one or two months only in London.”

          “Sebulan-dua bulan? Lama amat!” protesku. Bayangan Afrika begitu menggoda.

          “Ah. You’ll love London,” Zach nyengir. “Di sini banyak kejutan menantimu.”

                                                                                                               2.

        Wawasanku  tentang  teknologi  selama  ini  hanya  sebatas  apa  yang  dibawa  para  turis  ke
        Tanjung Puting tiap tahunnya. Aku baru tahu pager tidak lagi populer setelah turis-turis
        berhenti menentengnya. Lalu, aku mulai mengenal telepon seluler karena turis-turis mulai
        membawanya. Dari tahun ke tahun, kuamati ukuran ponsel semakin ciut. Mengapa aku
        bisa tahu? Karena turis-turis itu sering sulit menerima kenyataan bahwa semua pemancar

        seluler  mati  begitu  masuk  Tanjung  Puting.  Mereka  kerap  mencoba,  berpindah-pindah
        tempat, berharap sinyal akan muncul. Aku sempat ditertawakan karena membantu seorang
        turis  dengan  menggoyang-goyang  ponselnya.  Kupikir  setrip  tanda  sinyal  itu  bisa
        bertambah jika dibantu sedikit guncangan.

          Aku  juga  melihat  perubahan  laptop  dari  tahun  ke  tahun  lewat  para  turis  atau  para
        relawan. Bentuknya makin tipis dan warnanya makin macam-macam. Sesekali aku pinjam
        untuk mengetik atau main game kartu. Tidak lebih.


          Menghadapiku, Zach harus mengajarkan segalanya dari nol.

          Akan  tetapi,  sebelum  training  kami  dimulai,  aku  harus  memiliki  peralatanku  sendiri.
        Alhasil,  modal  uang  yang  kubawa  dari  Indonesia  ludes  dalam  waktu  beberapa  jam.
        Berganti dengan kamera DSLR, satu lensa, dan ponsel sederhana.

          Sesampainya di apartemen, aku garuk-garuk kepala melihat belanjaan itu dan persediaan
        uangku. Nasibku selamat semata-mata karena tumpangan Zach dan bahan makanan yang
        selalu tersedia di kulkasnya untuk kumasak. Tak mungkin aku bergantung pada sedekah
        Paul atau Zach selama dua bulan.


          “Zach, saya mesti hidup gimana di sini? I’m totally broke,” ratapku.

          “Don’t worry. Paul will arrange something,” hibur Zach. Sementara aku sudah tidak
   141   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151