Page 147 - Supernova 4, Partikel
P. 147

tahu apakah masih punya cukup uang untuk tiket underground besok.

          Hatiku kecut membayangkan harus menghubungi Gary dan menjual Nikon Titanium-ku
        demi menyambung hidup.

          Perkataan Zach terbukti benar. Paul sudah duluan bertindak. Pada malam yang sama,
        Paul datang ke apartemen membawa amplop berisi uang.

          “It’s yours, Missy,” katanya santai.

          Aku  membuka  amplop  tebal  itu.  Lembaran-lembaran  poundsterling  dari  mulai  £10

        sampai £50.

          “Sengaja  saya  pecah-pecah  supaya  gampang  buat  kamu  pakai  sehari-hari,”  Paul
        menambahkan.

          “I–ini uang apa? Dari mana?” tanyaku panik.

          “I sold your stork’s storm pictures.”

          Aku tertegun. Sindang lawe? Berhasil menyelamatkan hidupku di negeri orang?

          “I told you it was an easy sell,” Paul mengangkat bahu. “Dan, selamat, fotomu akan
        dimuat di kalender Kodak edisi World’s Rarest Birds tahun depan.”

          Zach menepak punggungku, “Congratulation, Zarah. Kariermu resmi dimulai.”

          Pada  hari  yang  sama,  dari  bokek  total  aku  jadi  punya  uang  ekstra  untuk  membeli
        peralatanku  yang  masih  kurang,  plus  biaya  hidup  di  London  untuk  beberapa  waktu.

        Kucium punggung tangan Paul sambil sungkem. Dan, kucium lantai apartemen Zach. Tak
        habis-habis mereka menertawaiku.

          Malam  itu  berakhir  di  sebuah  pub.  Aku  mentraktir  Paul  dan  Zach  minum.  Sebagai
        imbalan, mereka bernyanyi duet untukku di panggung karaoke. Jelek bukan main.

          Aku mengenang malam itu sebagai salah satu momen terindahku di London.




        Paul tidak main-main saat mengatakan bahwa aku bisa menghabiskan sebulan hingga dua

        bulan  pertamaku  di  London.  Peralihanku  dari  dunia  analog  ke  digital  ternyata  cukup
        makan waktu.

          Bukan hanya perkara transisi alat. Begitu bersentuhan dengan komputer, seribu jendela
        lain seolah ikut terbuka. Aku jadi harus melek terhadap banyak hal sekaligus: internet,
        katalogisasi dokumen foto, teknik pencitraan digital, penyuntingan foto digital, dan masih
        banyak buntut lain yang ikut dalam paket pelajaranku. Hal baru muncul setiap saat. Dalam
        sebulan terakhir, aku lebih banyak di depan komputer ketimbang di belakang kamera.


          Kadang,  aku  rindu  hari-hari  sederhanaku.  Saat  yang  ada  hanya  aku,  objekku,  kamera
        berisi film, dan ruang gelap.

          Hiburanku  di  sini  adalah  menjadi  turis  London.  Dengan  baju  berlapis-lapis  aku
        menyempatkan  diri  berjalan-jalan  ke  museum,  naik  bus  double decker,  dan  menontoni
   142   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152