Page 148 - Supernova 4, Partikel
P. 148

upacara pergantian penjaga di Buckingham Palace.

          Di kota kelabu ini sinar matahari bagaikan siraman berkat dari langit surga, yang cuma
        datang sesekali dan sekejap. Sementara orang-orang di Indonesia bergerak santai, di sini
        orang-orang  bergerak  cepat  seperti  dikejar  hantu.  Aku  menduga,  dinginnya  cuaca
        membuat mereka terasing dari satu sama lain di jalanan. Tak ada kontak mata. Tak ada
        abang-abang yang jongkok di trotoar sambil mengisap keretek, mengobrol ngalor-ngidul

        sambil  menggoda  cewek  lewat.  Tak  ada  ruang  untuk  keleluasaan  semacam  itu  di  sini.
        Semua orang bergegas ingin tiba di tujuan mereka sesegera mungkin. Terpisah sekian jauh
        dari Khatulistiwa membuatku tersadar betapa mewahnya hidup bermandi matahari.

          Meski  dingin  di  jalan,  orang  Inggris  bisa  berubah  drastis  ketika  darah  mereka  sudah
        dihangatkan alkohol di ruang tertutup. Di pub, di kelab, di kafe, dan tempat-tempat sosial
        lain yang kukunjungi bersama Paul dan Zach, aku bertemu dengan orang-orang Inggris
        yang hangat, humoris, senang bicara.


          Aku curiga Paul mengenal setengah kota ini. Ke mana pun kami pergi, selalu ada yang
        kulihat menyapa Paul. Situasi yang amat kontras denganku.

          “Di sini banyak komunitas orang Indonesia. Do you know any of them?” tanya Paul.

          Aku menggeleng.

          “Perfect stranger,” Zach nyengir.

          Aku ingin bilang bahwa sebetulnya aku kenal satu orang. Tanpa tahu orang itu di mana.
        Satu-satunya  sahabat  yang  kumiliki  dari  masa  sekolah  konon  tinggal  di  kota  besar  ini.
        Mungkin  kami  tak  akan  bertemu  kembali.  Aku  hanya  berharap  ia  masih  mengingatku,
        sebagaimana aku masih terus mengenangnya.





        Tujuh minggu sudah aku di London. Tugas pertamaku akhirnya tiba. Kenya.

          Aku akan ikut tim dari FAO untuk menyalurkan sumbangan makanan sekaligus mendata
        krisis pangan yang melanda Kenya akibat kemarau berkepanjangan. Masa tugasku tidak
        tanggung-tanggung.  Tiga  bulan.  Paul  hanya  akan  menemaniku  seminggu  pertama.
        Sisanya, aku dilepas sendiri.


          Di kesempatan yang kupunya, aku akan meninggalkan Nairobi menuju Kenya bagian
        selatan,  ke  batas  dinding  Great  Rift  Valley,  melewati  Kota  Narok,  menuju  perbukitan
        Loita.  Di  sana,  seorang  pemandu  Maasai  kepercayaan  Paul  sudah  menungguku.  Masa
        tinggalku di Kenya ada di rentang waktu yang strategis, yakni saat rumput sedang pendek
        dan musim turis sudah usai. Itulah saat ideal untuk memotret para predator lembah.

          Zach tergeli-geli melihatku berangkat ke bandara hari itu. Setelan bajuku baru, demikian
        juga dengan ransel, sepatu bot, tas kamera, serta tripod yang masih mulus berkilau.

          “Your first photo gig with The A-Team, dan kamu kayak mau pemotretan katalog,” Zach
        geleng-geleng.


          “Kita lihat tiga bulan lagi,” sahut Paul kalem.
   143   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153